Hari ini, 7 Februari 2023, Nahdlatul Ulama (NU) genap berusia satu abad berdasar kalender Hijriyah.
Sejak didirikan pada 16 Rajab 1344 H, ormas Islam terbesar di Indonesia itu telah menjalankan berbagai peran.
Termasuk mencetak generasi muda yang berkontribusi pada bidang kewirausahaan seperti Makhrus Soleh.
MENJADI pengusaha sukses tidak harus memiliki banyak modal. Itu dibuktikan oleh Makhrus Sholeh. Dia merupakan sosok di belakang kesuksesan Turen Indah (TI) Group.
Yakni perusahaan yang bergerak di bidang properti. Selain properti, pria berusia 46 tahun itu juga mengelola lini usaha lainnya.
Meliputi perusahaan produsen beton, toko bangunan, penginapan, hingga restoran. Meski memiliki berbagai usaha, Makhrus ternyata bukan dari keluarga pebisnis.
Dia merupakan anak pasangan petani asal Desa Talangsuko, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.
Lahir di tengah kondisi yang serba terbatas, Makhrus tak ingin masa kecilnya terulang di masa depan.
Untuk mewujudkan mimpi itu, Makhrus berusaha menjadi pelajar yang rajin.
Selepas lulus dari madrasah aliyah (MA), dia mendaftar di program pendidikan Peternakan Universitas Brawijaya.
Baca Juga : Ratusan Lampion Hiasi Perumahan Tinombala.
Makhrus memilih prodi tersebut setelah membaca kisah orang kaya dari Amerika yang berprofesi sebagai peternak.
Sayang, keinginan itu harus terkubur sementara lantaran ayahnya meninggal dunia.
”Saya tidak memiliki biaya untuk kuliah. Akhirnya, tahun 1997 saya menjadi sales. Mulai sales rokok, sales mainan anak, dan yang terakhir sales genteng,” kenang pria berkacamata itu, menceritakan perjuangannya kepada Jawa Pos Radar Malang.
Sehari-hari dia mencari calon pelanggan dari rumah ke rumah. Bahkan hingga ke kampung-kampung.
Namun pekerjaan itu membuatnya punya banyak ilmu. Seperti cara mendekati calon pelanggan, marketing, dan mempelajari keuangan.
Pada tahun 1998, Makhrus memberanikan diri membuka usaha produsen beton bersama rekannya.
Kini, usaha tersebut berkembang menjadi PT Turen Indah Beton. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Memiliki satu usaha tak membuat suami Indri Ariani itu berpuas diri. Berlanjut pada tahun 2022, Makhrus mendirikan toko bangunan dengan modal Rp 50 juta dari pihak ketiga.
Itu karena dulu dia belum memiliki modal berbisnis. Toko tersebut kemudian dikenal dengan nama Turen Indah Bangunan (TIB) yang sekarang sudah memiliki 17 cabang di berbagai kawasan.
Lalu pada 2008, ekspansi bisnis TI Group merambah ke properti, yakni Turen Indah Properti. Mulanya, Makhrus hanya membeli tanah kavling di Tlogowaru.
Melihat prospek bisnis properti yang menjanjikan, dia kembali membeli kavling. Saat ini, pria 46 tahun itu memiliki 40 perumahan yang tersebar di Jawa Timur hingga Papua.
Beranjak pada 2009, dia membuka usaha rumah makan Ocean Garden. Dan yang terakhir adalah usaha penginapan atau guest house hingga tujuh unit pada tahun 2013.
”Seluruh bisnis yang saya kelola ini mengalir saja. Prinsipnya, saya kerja tidak mengikuti passion. Yang penting menghasilkan,” tegas pria yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Malang itu.
Baca Juga : Pengembang Perumahan Terkendala Site Plan.
Pasang surut sebuah bisnis bagi Makhrus merupakan hal yang lumrah. Memiliki utang hingga miliaran pun pernah dirasakannya.
Namun, dia dan 1.000 karyawannya mampu mengatasi semuanya dengan baik. Untuk memperkuat solidaritas mereka juga selalu mengadakan evaluasi secara berkala.
Dalam mengelola bisnis, Makhrus menegaskan bahwa kesuksesannya tidak lepas dari nilai-nilai keagamaan yang dipelajari sejak kecil.
Termasuk seputar NU yang tertanam pada dirinya. Nilai-nilai itu didapatkannya dari musala, masjid, dan madrasah.
Salah satu nilai yang dipelajari Makhrus adalah kejujuran. Dengan menjaga kejujuran dan integritas, orang semakin percaya dengan dirinya.
Di samping itu, dia juga masih berpartisipasi dalam organisasi NU. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Yakni wakil ketua Lembaga Takmir Masjid (LTM) NU Kabupaten Malang dan dewan penasihat GP Ansor PC Kabupaten Malang.
Di sana, dia banyak berbagi dengan rekan-rekan NU muda.
”Misalnya soal kemandirian ekonomi. Karena selama ini tidak diajarkan di lembaga pendidikan seputar me-manage uang, pajak, penjualan, SDM, atau keuangan,” tandasnya. (mel/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana