Ada peran pria berusia 67 tahun ini di balik nama besar Amstirdam Coffee and Roastery. Dia aktif menyuplai kopi jenis robusta. Kopi dari kebunnya juga sudah diekspor ke sejumlah negara di Eropa.
BIYAN MUDZAKY HANINDITO
DARI Kota Malang, butuh waktu perjalanan sekitar dua jam untuk tiba di rumah Surat Untung.
Kediaman Surat Untung yang berada di Dusun Sumbertangkil, Desa Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo cukup mudah ditemukan.
Ada tulisan toko Berkah Unggul di bagian depan rumah Surat Untung.
Di toko itulah dia menjual produk-produk kopinya.
Produk-produk itu semua berasal dari lahan miliknya.
Total, Untung memiliki dan mengelola sekitar enam petak lahan kopi.
Lokasinya tak jauh dari rumahnya.
Satu petak dulunya merupakan lahan cengkeh.
Sejak zaman kolonial Belanda, sebagian besar wilayah Tirtoyudo sudah menjadi kawasan perkebunan kopi.
Di Sumbertangkil juga ada bekas pabrik kopi dan loji (rumah Belanda).
Seiring waktu, banyak yang beralih ke tanaman komoditas lain.
Seperti tebu dan singkong.
Desa tempat Untung tinggal adalah satu-satunya yang masih konsisten menanam kopi.
”Di desa lain banyak yang ditanami tebu dan singkong. Tapi mulai merambah ke Sumbertangkil bagian kecil,” ucap dia.
Sampai sekarang, pria asli Desa Sumbertangkil tersebut masih konsisten dalam menanam kopi.
Dia dipercaya kafe Amstirdam Malang untuk menjadi penyuplai kopi asal Tirtoyudo.
Kerja sama tersebut berawal dari tahun 2011.
Diawali dari kedatangan Sivaraja, CEO Amstirdam Coffee and Roastery ke sana untuk mencari biji kopi.
”Karena orangnya hobi kopi, dia bersama temannya yang anggota DPRD saat itu mendatangi desa-desa penghasil kopi dan melakukan sampling,” kata dia.
Sivaraja sempat mencoba kopi yang diproduksi Untung.
Dia pun merasa cocok dengan rasa kopi tersebut. Rasa dan aroma kopi dari perkebunan Untung dipengaruhi sistem tanam tumpangsari.
Kopi yang disodorkan ke Sivaraja adalah kopi dari lahan yang juga ditanami pisang dan kelapa.
”Di sini juga pupuknya pakai organik (kandang) saja. Kebetulan di sini banyak warga yang beternak kambing,” sebut dia.
Karena kecocokan itulah, nama Amstirdam mulai populer.
Nama itu notabene merupakan singkatan dari Ampelgading, Sumbermanjing, Tirtoyudo dan Dampit.
”Dia tanya kopi robusta ini namanya apa, saya jawabnya kalau dari orang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) namanya Amstirdam. Dia bilang nama itu bagus,” kisah dia.
Sejak saat itu, terjadi kerja sama antara Amstirdam dan Untung.
Pengiriman pertama yang dia lakukan mencakup 50 kilogram biji kopi.
Kini, dengan waktu pengiriman dilakukan 20 hari sekali.
Total dia bisa mengirim satu ton di setiap pengiriman.
Untung tidak hanya aktif mengirim kopi ke Amstirdam Kafe.
Tapi juga ke CV Asal Jaya di Kecamatan Dampit.
Dari Asal Jaya itulah, kopi dari kebun miliknya bisa dijual ke mana-mana.
”Ada yang diekspor kalau ke Asal Jaya. Tapi ke negara mananya saya tidak dikasih tahu,” ucap dia.
Berdasar beberapa sumber, diketahui Asal Jaya turut mengirim kopi ke negara-negara Eropa.
Salah satunya ke Belanda.
Kebun milik Untung kini sudah disertifikasi oleh CV Asal Jaya.
”Satu desa di Tirtoyudo, di Sumbertangkil hanya kebun saya saja yang disertifikasi,” sebut dia.
Tujuan sertifikasi itu untuk penetapan standar tanaman kualitas ekspor.
Sebelum bekerja sama dengan Sivaraja, dia hanya mengurus kopi miliknya sendiri ke Asal Jaya.
Tapi kini, dia juga menerima kopi dari petani lain untuk samasama dikirim ke pabrik di Kecamatan Dampit.
Namanya kini makin tenar dengan merek kopi bubuk ’Mbah Soerat’.
Yang kini dijual secara online di marketplace.
”Itu anak saya yang mengelola,” tandas dia. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana