Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Belajar di Tanaking, Bambang Gunawan Dirikan Morodadi Prima

Fathoni Prakarsa Nanda • Rabu, 22 Januari 2025 | 19:12 WIB
GENERASI KEDUA: Direktur Morodadi Prima David Lie berdiri di antara bus yang sudah jadi dan yang masih dalam proses produksi. (SATRIA CAHYONO/RADAR MALANG)
GENERASI KEDUA: Direktur Morodadi Prima David Lie berdiri di antara bus yang sudah jadi dan yang masih dalam proses produksi. (SATRIA CAHYONO/RADAR MALANG)

Perusahaan karoseri di Malang Raya saat ini sudah memasuki era generasi kedua atau ketiga.

Karena itu, tidak mudah untuk melacak karoseri yang pertama kali berdiri.

Kebanyakan merujuk pada Tanaking atau Morodadi Prima sebagai perusahaan tertua.

NABILA AMELIA

TAK sedikit orang menyamakan antara karoseri Morodadi Prima dengan Tanaking.

Padahal keduanya merupakan perusahaan yang berbeda.

Morodadi dirintis almarhum Lie Tjien Poen atau lebih dikenal dengan Bambang Gunawan Lie.

Tapi, sebelum merintis perusahaan sendiri, Bambang memang bekerja di bengkel karoseri Tanaking.

Bengkel tersebut berada di Jalan Peltu Sujono nomor 16, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Saat pertama bekerja di Tanaking, usia Bambang sekitar 27 tahun.

Bermodalkan keilmuan yang dimiliki, lulusan akademi seni rupa itu mulai mempelajari perakitan karoseri.

Dia juga mengembangkan keterampilan secara otodidak.

Seiring berjalannya waktu, Bambang dipercaya oleh bosnya untuk mengurus banyak hal.

Mulai dari produksi hingga pemasaran karoseri.

Dalam proses produksi, misalnya, Bambang bersama rekan-rekannya membuat bodi bus dari material yang masih sederhana.

Berupa rangka kayu dan pelat tipis atau seng.

Selama hampir dua dasa warsa bekerja dengan orang, timbul keinginan dalam diri Bambang untuk merintis perusahaan sendiri.

Keinginan itu akhirnya tercapai.

Namun, beberapa tahun pertama dia masih menjalin kerja sama dengan Tanaking.

Sistem yang dilakukan join dengan pemilik Tanaking hingga berdiri perusahaan yang bernama Tanaking Morodadi.

Menginjak tahun 1977, Bambang akhirnya mengibarkan bendera CV Morodadi.

Selain karena ingin berdikari, saat itu menantu dari pemilik Tanaking juga ingin melanjutkan usahanya sendiri.

Morodadi dipilih sebagai nama perusahaan karena ingin memberi kepercayaan terhadap pelanggan.

Jika dipaparkan, moro memiliki arti datang.

Sementara dadi adalah hasil.

Maka, nama perusahaan itu berarti kepercayaan antara pelanggan dan perusahaan.

Untuk mengembangkan usahanya, Bambang mencari lokasi baru.

Dia kemudian membuka perusahaan karoseri yang berdekatan dengan Tanaking.

Tepatnya ada di Jalan Peltu Sujono Nomor 4. Lokasi itu sebelumnya adalah garasi Perusahaan Otobus (PO) Persatuan.

Luas lahan lokasi baru yang digunakan sekitar tiga hektare.

Di lokasi baru, produk yang dibuat pertama kali adalah bus sederhana.

Memadukan antara kerangka yang dikerjakan manual dengan sasis dan mesin yang diproduksi dari luar negeri, yakni Chevrolet.

Dalam membuat produk, Bambang dibantu oleh enam karyawan.

Karena terbilang perusahaan karoseri bus satu-satunya di Kota Malang, Bambang tidak memiliki referensi untuk melakukan pengembangan.

Namun, bapak empat anak itu tak segan belajar dari karyawan maupun pihak lain yang dirasa mumpuni.

Dari produk bus sederhana, Bambang kemudian melirik pembuatan jenis-jenis bus lain.

Yakni microbus, medium bus, dan big bus.

Untuk micro bus memiliki kapasitas sekitar 20 penumpang.

Biasanya mereka menggunakan sasis dari Isuzu Elf atau Mitsubishi.

Kemudian, medium bus memiliki kapasitas 30 penumpang.

Sasis yang digunakan bisa dari Mitsubishi atau Isuzu.

Yang terakhir adalah big bus dengan kapasitas lebih dari 35 penumpang.

Sasis yang digunakan lebih beragam.

Seperti Hino, MercedesBenz, Scania, hingga Volvo.

Seiring berjalannya waktu, produksi Morodadi Prima semakin berkembang.

Dalam satu bulan berkisar antara empat unit sampai 10 unit.

Karena itu, pihak perusahaan mulai menambah karyawan.

Dari yang semula enam karyawan menjadi 500 karyawan.

Memasuki era 1980an, bisnis karoseri di Malang semakin bergeliat.

Ada beberapa karoseri bus baru yang muncul.

Seperti Adiputro, Arto Moro, hingga Malindo.

Ada juga karoseri yang berfokus pada mobil penumpang.

Antara lain Podo Joyo, Kuda Terbang, dan lain sebagainya.

Di tengah persaingan itu, Morodadi Prima tetap berkembang pesat.

Dalam satu bulan, Bambang bersama timnya bisa membuat 50 unit bus.

Karena pesanan yang semakin meningkat, pada 1997 mereka memutuskan untuk mencari lokasi baru.

Yakni di Jalan Raya Randuagung, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Luas lahannya mencapai empat hektare.

Dalam mempertahankan bisnisnya, Bambang juga mulai mengarahkan ke empat anaknya untuk terlibat.

Meski tak secara implisit, Bambang menganjurkan anak perempuan pertamanya agar menempuh sekolah desain otomotif.

Lalu anak keduanya, David Lie, diminta memimpin perusahaan.

Anak ketiganya menempuh pendidikan desain interior.

Sedangkan dan anak keempat di jurusan akuntansi.

Namun, yang bertahan menangani perusahaan sampai sekarang adalah David Lie.

Sejak perusahaan Morodadi Prima masih berada di Jalan Peltu Sujono Nomor 16, Bambang kerap mengajak David melihat lihat para pegawai merakit bus.

Demikian pula jika Bambang sedang mengurus izin atau pelanggan di Surabaya, David tak pernah absen diajak.

Dari sana, tumbuh ketertarikan di bidang otomotif dalam diri David.

Akhirnya dia memutuskan untuk terjun membantu Bambang pada tahun 1994.

Tepatnya saat masih berusia 23 tahun.

Keputusan David terjun karena dirinya tidak ingin Morodadi Prima yang sudah dianggap seperti bayi bagi Bambang berhenti berkembang begitu saja.

“Sangat disayangkan kalau setelah bertahun-tahun tidak ada anaknya yang melanjutkan dan menjaga babynya,” ungkap David.

Perlahan, almarhum Bambang mulai memberikan pengarahan terkait perusahaan kepada David.

Dia juga diminta terjun langsung menjalankan perusahaan.

Dimulai dengan mempelajari sistem manajemen, etos, dan kultur perusahaan.

Baru pada tahun kedua, David sedikit demi sedikit menerima tanggung jawab memimpin perusahaan.

Kendati demikian, David sudah merasakan tanggung jawab besar sejak tahun pertama bergabung.

Terutama pada era 1990an yang diwarnai krisis moneter hingga peristiwa Bom Bali.

Belum lagi ada pegawainya yang sempat dibawa oleh salah satu perusahaan di luar Malang.

Menurut David, saat terjadi krisis moneter, harga spare part mengalami kenaikan.

Kasus Bom Bali juga berimbas pada menurunnya pesanan bus.

”Kebetulan bus di Bali hampir 90 persen menggunakan produksi Morodadi. Saat ada momen itu tentu berdampak pada pesanan,” kenang David.

Untungnya David tidak bertahan sendiri.

Bambang masih tetap menemani.

Hingga usia menginjak 80 tahun, Bambang masih rajin keluar masuk karoseri untuk mengecek bus di perusahaan.

Tantangan berat dirasakan Morodadi Prima saat terjadi pandemi Covid-19 pada 2021.

Saat itu, pemerintah melarang perusahaan untuk memasukkan karyawan hingga 100 persen.

Akibatnya, seluruh pegawai tidak bisa bekerja maksimal selama hampir tiga tahun.

Tidak ada pesanan bus yang masuk selama pandemi.

Jumlah karyawan juga merosot menjadi 200 orang.

Ditambah lagi pada 2021, Bambang meninggal saat memasuki usia 83 tahun.

Setelah pandemi usai, David kembali membawa Morodadi Prima untuk bangkit lagi.

Pesanan bus kembali masuk.

Saat ini, produksi bus berada di kisaran 15 unit per bulan.

Jumlah karyawan juga bertambah menjadi 350 orang.

Selain mempertahankan sejumlah produk, Morodadi Prima juga mengembangkan adalah bus Patriot.

Nama tersebut dipilih karena semasa hidup almarhum Bambang terinspirasi oleh rudal Amerika yang berjaya di medan Perang Teluk.

”Untuk Patriot ini terbagi menjadi beberapa seri. Yakni Tourism, Travego, dan Setra,” sebutnya.

Ada pula tipe Ventura yang memiliki ciri khas seperti sudut runcing dan kontur garis yang menyatu dengan lengkung desain.

Morodadi Prima juga tetap bertahan meski sudah tidak lagi bekerja sama dengan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM).

Sebab, pihak perusahaan ingin bus tetap murni kreasi dari anak bangsa. Keunggulan lain adalah Moro dadi Prima tetap mempertahankan buatan tangan untuk konstruksi bus.

Seperti pada bagian depan bus yang dibuat dengan pelat tebal.

Meski waktu pengerjaan untuk satu bus mencapai 40 hari kerja, Morodadi Prima tidak ingin terlalu banyak menggunakan fabrikasi.

Tujuannya untuk meminimalisir risiko kecelakaan. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Morodadi Prima #karoseri #Tanaking #malang #perusahaan