Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

35 Bumil di Malang Terpapar HIV/AIDS

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 1 Desember 2023 | 21:00 WIB
Ilustrasi ibu hamil dan tes HIV/AIDS
Ilustrasi ibu hamil dan tes HIV/AIDS
Penularan terhadap Bayi yang Dikandung Minim

MALANG RAYA – Hari AIDS sedunia kembali diperingati hari ini (1/12).

Tema Let Communities Lead yang diangkat mengusung pesan pentingnya peran komunitas masyarakat untuk ikut mengampanyekan bahaya dan efek AIDS.

Termasuk memagari ibu hamil (bumil)dan anak-anak agar terhindar dari virus yang sangat mematikan itu.

Ibu hamil yang terpapar HIV/AIDS di Malang Raya memang masih perlu mendapat perhatian khusus.

Sepanjang 2022, jumlahnya mencapai 33 orang.

Terdiri dari 16 ibu hamil di Kota Malang, 16 di Kabupaten Malang, dan satu di Kota Batu.

Sementara pada tahun ini (sampai Oktober 2023), jumlahnya meningkat menjadi 35 orang.

Kabupaten Malang mencatat angka terbanyak dengan 21 bumil.

Disusul Kota Malang dengan 13 bumil, sementara di Kota Batu tetap di angka satu orang.

Selain bumil, anak-anak juga rentan tertular HIV/AIDS.

Biasanya penularan terjadi dari ibu. Misalnya di Kota Malang.

Di antara 16 ibu hamil pada 2022 ditemukan 1 bayi yang lahir dengan kondisi positif HIV/AIDS.

Beruntung tahun ini tidak ditemukan kasus yang sama meski jumlah ibu hamil yang positif HIV/AIDS meningkat menjadi 21 orang.

Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang Chairiyah mengatakan, potensi penularan HIV dari ibu hamil ke anaknya memang tidak besar.

Bahkan dapat dikurangi melalui pengobatan rutin setiap hari.

”Ketika anak lahir juga harus dilakukan terapi pencegahan atau profilaksis HIV,” ujarnya saat ditemui di kantor Dinkes Kabupaten Malang kemarin (30/11).

Dia menjelaskan, jika bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV mendapatkan pengganti ASI (PASI), maka diberikan profilaksis zidovudin dengan dosis sesuai usia kehamilan selama 6 minggu.

Namun untuk bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV dan mendapatkan ASI, maka profilaksis yang diberikan adalah zidovudin dan nevirapin.

Dosisnya dosis sesuai usia gestasi selama 6 minggu.

Tapi dengan syarat sang ibu harus dalam terapi Antiretroviral (ARV) kombinasi.

Selanjutnya, profilaksis kotrimoksazol diberikan kepada seluruh bayi lahir dari ibu terinfeksi HIV sejak usia 6 minggu.

Pemberian itu dilakukan sampai terbukti tidak terinfeksi HIV dengan uji diagnostik yang sesuai dengan usia.

Ketika uji diagnostik menunjukkan bahwa bayi terpapar HIV, maka bukan lagi profilaksis yang dilakukan.

Melainkan pengobatan menggunakan ARV.

Artinya pengobatan dilakukan seumur hidup.

Chair menjelaskan, gejala orang yang terpapar HIV tidak bisa terlihat.

Pasien akan bertingkah laku seperti orang sehat pada umumnya.

Tapi ketika virus semakin berkembang, sistem imun akan memburuk.

”Orang yang sistem imunnya baik masih bisa melawan bakteri dan bisa terhindar penyakit. Sedangkan orang yang terpapar HIV tidak bisa melawan bakteri itu dan mudah terserang penyakit lain,” lanjutnya.

Virus tersebut tidak bisa dihilangkan, tapi perkembangannya dapat dikendalikan melalui pengobatan ARV.

Ketika deteksi awal terhadap orang menunjukkan a terpapar HIV, maka aka dilakukan penghitungan virus dalam darah.

”Itu untuk menentukan langkah pengobatan selanjutnya,” tandas Chair.

Menurun di Kota Malang

Sementara itu, kasus ibu hamil terpapar HIV/AIDS di Kota Malang terbilang menurun.

Dari 16 ibu hamil pada 2022 menjadi 13 bumil pada 2023.

Jumlah bayi yang tertular juga menurun dari empat menjadi nihil.

Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif menjelaskan, untuk memastikan kondisi kesehatan ibu dan bayi, ada pemantauan dalam rentang waktu kehamilan enam mingguhingga anak berusia 18 bulan.

”Penularan penyakit HIV/AIDS itu bermacam-macam. Salah satunya melalui transplasenta. Untuk mengurangi risiko anakanak lahir dengan HIV/AIDS biasanya dilakukan kelahiran secara sesar,” jelas dia.

Rentan atau tidaknya anak terjangkit HIV/AIDS dari orang tua, lanjut Husnul, juga tergantung adanya penyakit bawaan.

”Jadi harus dicek juga apakah ibunya memiliki penyakit bawaan atau tidak,” imbuh pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.

Di Kota Malang juga terdapat relawan yang mendampingi orang dengan HIV/AIDS.

Salah satunya Mery dari Netra Plus.

Dia menjelaskan, hingga kini pihaknya sudah memberi pendampingan terhadap lebih dari 3 ribu ibu dan anak.

Mery mencontohkan pasien anak dari Kedungkandang.

Anggap saja namanya Putri.

Pasien itu mengidap HIV/AIDS sejak usianya masih dua tahun.

Dia ditemukan dirawat di sebuah rumah sakit dalam kondisi buruk.

Tubuhnya kurus sampai hanya tersisa kulit dan tulang.

”Dia didampingi oleh bapak dan neneknya. Sementara ibunya sudah meninggal dunia,” terangnya

Saat mengandung Putri, ibunya baru lulus dari SMA kemudian menikah.

Hanya saja tidak diketahui apakah sejak dulu ibunda putri memang mengidap HIV/AIDS atau tidak.

Namun, ayah Putri sehat dan tidak terjangkit HIV/AIDS sampai sekarang.

”Karena itu, neneknya tidak percaya kalau cucunya terkena HIV/AIDS,” imbuhnya.

Setiap mengambil darah untuk pemeriksaan, Mery yang selalu memberi pendampingan.

Beruntung kondisi Putri saat ini jauh lebih baik. Bahkan sudah duduk di bangku SMP.

”Secara fisik tampak sehat dan cantik. Dia rutin meminum obat. Gizinya juga cukup, sehingga pemulihannya cepat,” ucap dia.

Pentingnya Skrining

Monev HIV Dinkes Kota Batu Yonas Galang Lisandy menjelaskan, tingkat penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi selama masih di dalam kandungan berada di kisaran 5-10 persen.

Sedangkan persentase saat persalinan meningkat menjadi 10-20 persen.

Kemudian penularan melalui pemberian ASI kepada bayi antara 5-15 persen.

Menurut Yonas, ibu yang positif HIV bisa menularkan virus ke bayinya maupun tidak.

Karena itu, saat trimester I, ibu hamil harus mengecek 3 jenis penyakit. Yakni HIV, sifilis, dan hepatitis.

”Jika pada trimester 3 terdeteksi HIV, maka harus segera diobati (ditekan virusnya),” papar Yonas.

Yonas menambahkan, selama dua tahun terakhir Dinkes Kota Batu telah menggencarkan pemeriksaan atau tes HIV/AIDS kepada calon pengantin.

Tujuannya agar perencanaan pernikahan untuk memiliki anak bisa berjalan sesuai harapan.

”Upaya lainnya, kami selalu menekankan jangan pernah ada diskriminasi dari masyarakat, pasien, dan tenaga medis terhadap orang yang menderita HIV/AIDS. Sebab, mereka juga punya hak asasi seperti orang pada umumnya,” tandasnya. (yun/mel/ifa/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#bumil #malang #hiv/aids