MALANG KOTA – Pengakses layanan kemoterapi di Malang makin banyak tiap tahun. Ini karena kanker masih menjadi salah satu penyumbang angka kematian tertinggi di dunia selain penyakit jantung.
Setiap tahun jumlah kasusnya juga meningkat. Karena itu pula, jumlah pasien yang mengakses pengobatan kemoterapi juga ikut meningkat dari tahun ke tahun.
Salah satu rumah sakit yang mencatat peningkatan akses kemoterapi adalah RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA).
Pada 2020, jumlahnya memang sangat sedikit, yakni hanya 30 tindakan. Itu terjadi karena pandemi Covid-19 yang mengganggu begitu banyak layanan kesehatan.
Namun, sepanjang 2021 jumlahnya melonjak drastis menjadi hingga 3.000 tindakan. Tahun lalu bahkan mencapai 7.000 tindakan kemoterapi di RSSA Malang.
Baca Juga : 8 Bulan, Catat 42 Kasus Kanker Serviks.
Lewat kemoterapi, pasien kanker memang bisa meraih masa remisi. Sehingga sel kanker pada tubuh mereka sudah jauh berkurang, atau bahkan tidak ada lagi.
Meski demikian, pasien tetap harus kontrol secara teratur dan menjaga tubuhnya agar selalu sehat. Ada banyak kanker yang bisa dirawat melalui kemoterapi.
Misalnya yang tergolong tumor padat seperti kanker payudara, kanker tiroid, kanker paru-paru, kanker kolon, kanker usus besar, dan kanker nasofaring.
Ada juga yang termasuk golongan kanker darah atau hematologi, seperti leukemia serta limfoma (kelenjar getah bening).
”Semua kanker memang bisa ditangani dengan kemoterapi. Tergantung posisi kanker, kandungan sel kanker, hingga sifat kanker,” ujar spesialis penyakit dalam RSSA dr Nina Nurarifah SpPD kepada Jawa Pos Radar Malang, 3 Februari 2023.
Menurut Nina, tidak semua kanker merespons kemoterapi dengan baik atau kemosensitif. Misalnya kanker pada tulang. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Karena itu, kanker memiliki penanganan yang berbeda-beda. Untuk mendapatkan masa remisi maupun angka harapan hidup yang lebih baik, kanker harus segera ditangani.
Terlebih, kini teknologi pengobatan tidak hanya terbatas pada metode konvensional. Yaitu, gabungan antara kemoterapi, operasi, dan radiasi.
Namun sudah berkembang menjadi prescription medicine yang lebih presisi untuk membunuh sel kanker.
”Prescription medicine terbagi lagi menjadi beberapa macam. Antara lain terapi genetik, imunoterapi, dan terapi target,” terang perempuan yang akrab disapa Nina tersebut.
Meski metode pengobatan kanker sudah lebih canggih, angka harapan hidup tetap tergantung kondisi pasien saat akan menjalani terapi.
Kondisi tersebut bisa berupa performa pasien, tingkat stadium. Namun, bisa juga karena penyakit penyerta atau komorbid.
Baca Juga : Bermain Sangat Penting Bagi Anak Penderita Kanker.
Pada kemoterapi terdapat istilah seri dan siklus. Dalam satu seri terdapat beberapa siklus.
Jarak antara siklus pertama dengan kedua berbeda-beda. Ini ditentukan dari jenis kanker, pilihan obat, serta kondisi pasien.
Jika pasien sudah melalui satu seri kemoterapi, mereka akan dievaluasi. Yang dievaluasi berupa ukuran tumor setelah menjalani kemoterapi hingga ada tidaknya penyebaran.
”Kalau setelah kemoterapi ada sisanya, berarti pasien hanya mengalami remisi sebagian,” imbuh Nina.
Saat ini, lanjut Nina, di RSSA sudah ada yang memanfaatkan prescription medicine. Paling banyak adalah pasien yang menjalani terapi target.
Dia memberi contoh penanganan kanker leukemia granulositik kronik. Ini adalah kanker pada darah dan sumsum tulang belakang. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Terapi target bisa membantu mengendalikan kromosom yang menjadi sumber kanker darah. Sehingga aktivitas kanker bisa ditekan.
Angka harapan hidup juga menjadi lebih baik. ”Terapi target untuk menangani kanker payudara,” imbuhnya.
Metode imunoterapi juga sudah ada yang memanfaatkan. Namun, jumlahnya terbatas karena tidak semua ditanggung BPJS Kesehatan.
Lalu, untuk terapi gen belum ada yang melakukan. Nina mengatakan bahwa yang mendominasi sebenarnya tetap terapi konvensional. Termasuk kemoterapi kanker payudara dan kanker serviks.
Dokter yang memiliki konsentrasi penanganan kanker hematologi itu menambahkan, saat ini fasilitas kemoterapi di RSSA sudah semakin holistik.
Artinya, penanganan pasien dengan kanker tidak hanya melalui obat. Tapi juga diagnosis yang cepat dan tepat. Fasilitas maupun tenaga kesehatan di RSSA sudah mendukung.
Baca Juga : Anak Bakal Wajib Vaksin Penangkal Kanker Serviks.
Akan tetapi, sebagai dokter yang menangani kanker darah, salah satu yang ingin dia kembangkan adalah terapi sumsum tulang belakang. Kemudian, terapi target yang lebih variatif dan terjangkau.
Terpisah, Direktur Rumah Sakit Lavalette dr Mariani Indahri MMRS mengungkapkan, di tempatnya, tindakan kemoterapi bisa mencapai 200-250 tindakan per bulan.
Yang mendominasi adalah kanker payudara, kanker serviks, serta kanker nasofaring.
”Kalau dilihat data pada Januari 2023, yang mendominasi tetap kanker di bidang ginekologi. Porsinya mencapai 75 persen dari keseluruhan pasien kemoterapi,” terang Mariani. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Untuk kanker pada bidang ginekologi meliputi 50 persen pasien kanker ovarium. Sisanya adalah pasien kanker leher rahim.
Ada juga penanganan kanker payudara sebanyak 10 persen. Sementara penanganan lainnya untuk kanker nasofaring dan kanker pencernaan.
Mariani menjelaskan, ke depan pihaknya akan menambah layanan kemoterapi dengan akses chemoport.
Yakni alat untuk mempermudah memasukkan obat kemoterapi dan cairan intravena ke dalam aliran darah.
Ada juga rencana pengembangan radioterapi interna (brakiterapi).
”Brakiterapi bertujuan agar kasus kanker yang membutuhkan radiasi interna lebih paripurna penyembuhannya. Salah satunya kanker leher rahim,” tandasnya.(mel/fat)
Daftar Rumah Sakit di Malang Yang Melayani Kemoterapi.
- RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA).
- Rumah Sakit Lavalette.
- Rumah Sakit Panti Nirmala.
- Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RS UB).
- Rumah Sakit Onkologi Sentani