MALANG KOTA – Penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMPN 5 Malang berlangsung meriah, kemarin. Pasalnya kegiatan itu ditutup dengan gebyar seni bertajuk Festival Lentera 2. Festival tersebut menampilkan sejumlah atraksi seni dan pameran karya.
Antara lain pertunjukan seni tari tradisional hingga hasil karya siswa dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5. Kepala SMPN 5 Malang Agus Wahyudi SPd MPd mengatakan, Festival Lentera 2 itu merupakan ajang untuk menampilkan sejumlah karya siswa dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM).
Hadir dalam acara tersebut Kasie Peserta Didik dan Pembangunan Karakter Disdikbud Kota Malang Wahyu Oriendriani dan perwakilan Komite SMPN 5 Malang M. Natsir Pratomo. Selain itu, Lurah Rampal Celaket Nurul Fitri SP, Humas RS Lavalette Rika Umi Palupi Amd Kep, Ketua RT 03 RW 02 Rampal Celaket Sudariyanto Babinkamtibmas Rampal Celaket Choirul.
Pihaknya mengaku sengaja menampilkan karya-karya siswa bersamaan dengan penutupan MPLS. Sebab, Agus berharap tampilan itu bisa menjadi motivasi bagi siswa baru untuk turut serta dalam melahirkan karya-karya yang baik. ”Setidaknya siswa baru mempunyai gambaran, nantinya mereka akan melakukan hal yang sama,” ucapnya.
Agus menambahkan MPLS yang digelar tiga hari itu mengajak siswa baru untuk mengenal lingkungan sekolah dengan menyenangkan. Namun, muatan edukasi tetap tak ketinggalan. Dia menyampaikan siswa baru tak hanya menikmati suguhan berbagai tampilan kakak kelasnya saja.
Melainkan, mereka juga diminta untuk mengapresiasi setiap pertunjukan yang ada. ”Jadi setiap ada pertunjukan siswa baru diberikan link untuk menyampaikan komentarnya di sana. Terkait apa hal positif yang bisa diambil dan sebagainya,” terangnya.
Keberhasilan Festival Lentera 2, tidak lepas dari bantuan paguyuban wali murid kelas 7 dan 8. Serta beberapa sponsor antara lain Antangin dan Kojima dari PT. Deltomed Laboratories, Bank Jatim, Mayora Group, Warung Agrin, LBB Brawijaya, Optik Restu, Filosofi Ngopi, Laksmi Jaya, Teh Poci, serta Kebab Bara.
Lebih lanjut Agus mengatakan, dari kegiatan itu siswa secara otomatis diajarkan untuk berpikir kritis dan menghargai karya orang lain. Pihaknya menyebut dalam MPLS tahun ini ada muatan khusus yang disampaikan.
Yakni terkait anti-vandalisme.
Agus menyebut aksi vandalisme yang kerap menyasar SMPN 5 Malang itu perlu diantisipasi. Tujuannya, agar siswa tak ada yang terpengaruh kemudian terlibat dalam aksi itu. ”Sebab, selama ini pelaku vandalisme kebanyakan anak-anak muda,” ungkapnya. (dre/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana