MALANG KOTA - Jangan sesekali meremehkan kondisi telinga. Sebab, bagian tubuh satu ini juga perlu dirawat secara rutin. Terutama rutin membersihkannya dari kotoran yang menempel.
Seperti kemarin, setidaknya 100 pengunjung Car Free Day (CFD) Ijen memeriksakan sekaligus membersihkan telinganya ke dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT). Para dokter melakukan pemeriksaan telinga pengunjung CFD menggunakan otoskop. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, mayoritas pengunjung diberi edukasi agar peduli dengan kesehatan telinga.
”Untuk pemeriksaan dilakukan pada telinga. Kalau hidung lebih kepada sosialisasi mencuci hidung menggunakan natrium klorida (NaCl) atau saline," kata Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher (Perhati-KL) Jawa Timur Selatan dr Hendradi Surjotoni SpTHTKL (K) FICS.
Tak hanya menggunakan cairan, menurut Hendradi, tubuh manusia sebenarnya juga sudah didesain lengkap dengan keberadaan mukosa atau selaput lendir. Selaput lendir itu kemudian membawa kuman hingga tertelan ke lambung. Di lambung, kuman akan mati karena asam lambung.
Demikian pula dengan telinga. Membersihkan telinga dengan air sebenarnya tidak harus rutin dilakukan. Sebab, telinga bisa mengeluarkan kotoran sendiri karena memiliki kelenjar serumen atau melalui gerakan mengunyah.
Namun, ada beberapa kondisi yang membuat kotoran sulit keluar. Misalnya saja, orang yang memiliki lubang telinga kecil atau orang yang mengalami keratosis. ”Tapi yang harus rutin dibersihkan adalah daun telinga. Bisa saat wudu dan mandi," jelas dia.
Dari 100 orang yang mencoba pemeriksaan telinga gratis, tidak semua harus melakukan cuci telinga. Hendradi memperkirakan, hanya 10 persen saja yang perlu cuci telinga. ”Meski demikian, saya mengimbau agar masyarakat tidak menyepelekan kesehatan organ-organ di kepala," tegasnya. (mel/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana