MALANG KOTA - Jika tak ada halangan, Bus Trans Jatim Koridor I Malang Raya dijadwalkan mengaspal mulai 20 November mendatang. Seluruh persiapan terus dikebut Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur bersama tiga pemerintah daerah di Malang Raya.
Manajemen Trans Jatim dan Staf Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bidang Angkutan Jalan Dishub Provinsi Jawa Timur Cito Eko Yuli Saputro menyampaikan, kesiapan sarana bus saat ini sudah 85 persen. ”Untuk bus-nya sedang commissioning di Karoseri Tentrem,” kata dia, kemarin (5/11). Commissioning merupakan proses pengecekan kendaraan.
Itu dilakukan untuk memastikan fasilitas yang ada berfungsi dengan baik. Cito menyebut bahwa secara desain, bus bakal memiliki warna biru. Desain itu sesuai ciri khas Malang Raya. Sementara fasilitas yang tersedia di dalam bus meliputi 20 tempat duduk, 10 handle grip, dan lain-lain (selengkapnya baca grafis).
”Kabar terbaru yang saya terima, tinggal menempelkan stiker. Mungkin pekan depan bus sudah selesai,” sebut Cito. Setelah selesai, pihaknya akan kembali melakukan uji coba pada pertengahan November sebelum diresmikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Agar bus bisa beroperasi, Dishub Jawa Timur mengucurkan anggaran antara Rp 15 miliar sampai Rp 17 miliar. Anggaran itu untuk operasional 15 armada Bus Trans Jatim Koridor I Malang Raya setiap tahun. Menurut Cito, anggaran dikucurkan untuk membeli layanan dari perusahaan otobus (PO) yang membentuk konsorsium dalam pengadaan Bus Trans Jatim di Malang Raya.
Perusahaan itu adalah PT Bagong Dekaka Makmur, PT Tentrem Sejahtera, dan PO Restu Panda. Mekanisme layanan bus seperti itu juga dikenal dengan istilah buy the service (BTS). ”Melalui BTS, kami membayar berdasar kilometer bus,” sebut Cito. Jika di tengah perjalanan ada trouble, maka dishub tidak perlu membayar layanan secara penuh.
Namun di sisi lain, PO tidak dikenakan penalti. Selain layanan, anggaran juga digunakan untuk menggaji SDM yang terlibat dalam operasional bus. Total ada 45 SDM yang dibutuhkan. Terdiri dari 34 sopir bus, admin, petugas pembersihan bus, dan lain-lain.
Seluruh SDM yang terlibat akan mengambil dari sopir angkot di Kota Batu dan Kota Malang yang trayeknya terdampak. Sopir angkot dua kota itu mendapat jatah masing-masing 50 persen dari kebutuhan SDM. ”Namun tentunya akan kami seleksi lagi. Salah satu persyaratannya dari segi usia tidak boleh lebih dari 55 tahun,” terang Cito.
Secara administrasi, para sopir yang terjaring seleksi juga mendapat bantuan. Bantuan itu berupa pengurusan SIM untuk izin mengendarai bus. Sistem kerjanya bakal dibagi dalam dua shift. Shift pertama sebanyak dua perjalanan selama 7-8 jam.
Sementara shift kedua sebanyak satu perjalanan selama 4-5 jam. Selain armada dan sopir, Dishub Provinsi Jawa Timur juga mempersiapkan prasarana. Terdiri dari shelter, rambu, markah, warning light, hingga Public Transport Information Digital (PTIS).
Cito merinci, untuk shelter dan rambu tersebar di tiga daerah. Di Kota Malang ada di 27 titik, Kabupaten Malang di 15 titik, dan Kota Batu di 25 titik. Sebagai contoh, di Kota Malang ada di Terminal Hamid Rusdi. Sementara untuk Kabupaten Malang ada di Terminal Landungsari dan Kota Batu di Terminal Batu.
”Namun yang di Kota Malang, pengadaan shelter-nya bertahap,” sebut Cito. Itu karena ada keterbatasan lahan. Untuk shelter, memiliki model portable mini dengan luasan 4 meter persegi. Sementara jika lahan terbatas, dishub hanya menempatkan rambu yang menjadi tanda pemberhentian bus.
Pada shelter, rencananya terdapat bagian untuk mencantumkan iklan digital. Adanya iklan digital itu bisa mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD). Karena pendapatan Bus Trans Jatim tidak hanya dari tiket, tapi juga non-tiket seperti iklan.
Sementara itu, untuk operasional, Cito menjelaskan bahwa Bus Trans Jatim akan beroperasi mulai pukul 05.00 sampai 21.00. Selama beroperasi, Bus Trans Jatim memiliki interval antar-rute dalam 15 menit sampai 20 menit. ”Jadi misal bus pertama berangkat pukul 05.00. Nanti berangkat lagi pukul 05.15,” terangnya.
Cito menambahkan, untuk siklus perjalanan bus, jika ditotal memiliki 84 ritase. Sebagai contoh, satu bus memiliki 6 kali ritase atau setara dengan 3 kali perjalanan pulang dan pergi.
Di tempat lain, Kepala Dishub Kota Malang R. Widjaja Saleh Putra menyampaikan, pihaknya siap mendukung pelaksanaan Bus Trans Jatim. Pihaknya juga mengusulkan titik lokasi shelter atau halte.
Menurut Jaya, keberadaan Bus Trans Jatim sangat penting untuk mengurai kemacetan di Kota Malang. ”Karena berdasar data yang kami himpun, saat ini mobil yang terdata sudah 274 ribu unit dan motor sebanyak 539 ribu. Jumlah masyarakat juga semakin banyak, mencapai 896 ribu jiwa,” tandasnya. (mel/by)
Editor : A. Nugroho