Selain NV Adam, dulu terdapat perusahaan otobus (PO) yang menghubungkan wilayah Malang dan Batu. Perusahaan tersebut adalah NV Batoe Omnibus Maatschappij (B.O.M.). Bus milik NV B.O.M. itu juga terhubung dengan layanan kereta api.
NABILA AMELIA
CERITA turun-temurun di Kota Batu dan Malang menyebutkan bahwa NV B.O.M. adalah perusahaan otobus (PO) milik Tjoa Tjwan Gie.
Perempuan yang akrab disapa Liem itu dikenal sebagai pengusaha keturunan China Belanda.
Liem juga memiliki bisnis berupa pabrik tenun.
Dia bahkan pernah membeli villa milik keluarga Sarkies yang kini menjadi el Hotel Kartika Wijaya Batu.
Dalam sejarah singkat el Hotel Kartika Wijaya Batu disebutkan bahwa hotel tersebut di bangun Martyrose Ter Martien Sarkies pada pertengahan abad ke-19.
Tujuannya untuk memperluas jaringan hotel keluarga yang sebelumnya sudah tersebar di Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, Myanmar, Surabaya, hingga Malang.
Selanjutnya, bangunan hotel itu menjadi villa peristirahatan dari Martyrose.
Namun pada 1931, villa tersebut dibeli oleh Liem yang saat itu menjalankan bisnis di Kota Batu.
Khusus untuk bisnis bus, Liem membuka trayek Malang-Batu.
Layanan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat karena menjadi satu satunya bus yang menghubungkan Malang dengan Batu.
Memasuki 1934, pengelolaan NV B.O.M. dipimpin pengusaha Tionghoa yang bernama Tan Ping Tjiat.
Hal tersebut tercantum dalam surat kabar Soerabaijasch Handelsblad dan Sin Tit Po.
Dua surat kabar itu menyebutkan bahwa Tan Ping Tjiat menjabat sebagai direktur N.V B.O.M.
Namun, belum diketahui secara pasti hubungan antara Liem dan Tan Ping Tjiat.
Di tangan Tan Ping Tjiat, N.V. B.O.M. melakukan sejumlah terobosan. S
alah satunya membuat layanan bus bekerja sama dengan perusahaan kereta api atau Staarspoorwegen (SS).
Dalam surat kabar Soerabaijasch Handelsblad yang terbit 17 Februari 1938 disebutkan, pihak N.V. B.O.M. menyesuaikan jadwal keberangkatan bus dengan kereta api.
Dengan penyesuaian jadwal, masyarakat bisa melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api.
Terutama bagi mereka yang ingin ke Bangil, Surabaya, Pasuruan, dan Probolinggo.
Soerabaijasch Handelsblad yang terbit 20 Januari 1939 juga menyebutkan, armada bus NV B.O.M. menggunakan dua kendaraan jenis Chevrolet.
Dua bus tersebut diproduksi oleh General Motors yang berlokasi di Tanjung Priok.
Secara kondisi, bus milik NV B.O.M. sudah terbilang nyaman.
Dari luar, bus itu memiliki warna abu-abu.
Sementara di bagian dalam terdapat jok dengan konstruksi baja yang dilapisi kulit imitasi warna merah muda.
Kapasitas kursinya sekitar 22 penumpang.
Fasilitas di dalam bus selalu dipelihara oleh Tan Ping Tjiat agar tetap nyaman.
Apalagi pada zaman tersebut, beberapa angkutan umum seperti oplet dan taksi sudah mulai beroperasi.
Selain kursi, ada fasilitas lain berupa tiket bus untuk tujuan pulang maupun pergi.
Itu diperuntukkan bagi penumpang yang domisilinya jauh dari Malang.
Tiket hanya tersedia pada hari biasa, tidak pada hari libur nasional.
Jika ingin menggunakan bus, penumpang perlu merogoh kocek dengan mata uang Belanda sebesar ƒ 0,30.
Sementara untuk yang membutuhkan tiket pulang-pergi harus mengeluarkan biaya senilai ƒ 0,50 Bus milik NV B.O.M. berangkat setiap 15 menit.
Karena kondisi lalu lintas belum padat seperti sekarang, perjalanan dari Batu menuju ke Kota Malang ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit.
Melewati beberapa lokasi pemberhentian seperti, Beji, Ngandat, Pendem, Sengkaling, Dinoyo, Djengkrik, hingga tiba di Malang.
NV B.O.M. juga membuka trayek bagi masyarakat yang ingin menuju Songgoriti atau tempat-tempat wisata di sekitar Kota Batu.
Dalam jurnal berjudul Aktivitas Pelesir Orang Orang Eropa di Surabaya Masa Kolonial yang disusun oleh Wiretno, potensi alam di Kota Batu menjadi alasan pengembang membuka villa dan hotel.
Untuk menuju ke sana, masyarakat yang turun di Stasiun Malang biasanya menggunakan bus NV B.O.M.
Hingga 1941, surat kabar Oetoesan Kita menyebutkan bahwa NV B.O.M. masih beroperasi dengan dua armada.
Lalu bisa dilanjutkan dengan kereta api bagi masyarakat yang ingin ke Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, Wonokromo, dan Surabaya.
Sayangnya, memasuki 1960 an, bisnis NV B.O.M. tampaknya mulai surut.
Jumlah bus yang dulunya dua unit tersisa satu unit.
Hal tersebut dituturkan oleh Ketua Dewan Harian Cabang (DHC) Badan Pembudayaan Kejuangan (BPK) 45 Kota Batu Didik Mintarjo.
Didik yang lahir pada tahun 1955 pernah beberapa kali naik bus NV B.O.M.
Dalam pengamatan Didik, bus yang beroperasi sudah menggunakan baja dan metal.
Sementara tempat duduknya dari besi.
Pada 1960-an, bus NV B.O.M. biasanya berangkat dari terminal (stand plat) di dekat Masjid Agung An Nur, Jalan Gajah Mada Nomor 10, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu.
Tidak jauh dari sana dulunya juga ada tempat untuk mengisi bensin.
“Lalu yang sekarang jadi Plaza Batu itu dulu juga terminal,” kenang Didik.
Kala itu, di stand plat tidak hanya terdapat bus, tapi juga kendaraan penghubung atau suburban yang menggunakan brand Dodge, Chevrolet, dan Austine.
Selain parkir di terminal, bus juga pernah parkir di lokasi lain.
Seperti percabangan Jalan Panglima Sudirman (Gang Garasi) atau lokasi yang saat ini menjadi Dojo Karate Kyokushinkai Indonesia di Jalan Kasiman.
Tak jauh berbeda dengan masa-masa awal beroperasi, pada 1960-an NV B.O.M juga melalui beberapa rute.
Dimulai dari Jalan Gajahmada, Jalan Ir Soekarno, Dinoyo, hingga Malang.
Di Malang, bus biasanya melintas di Kajoetangan hingga Kampung Sawahan.
“Nah, di Kampung Sawahan itu ada terminal lagi yang sekarang sebelah barat Rumah Makan Kairo,” ungkap Didik.
Kendati demikian, Didik tidak terlalu sering menggunakan bus NV B.O.M.
Demikian pula masyarakat lainnya.
Kebanyakan orang kelas atas yang ingin tamasya ke Batu saat itu hanya ingin berkunjung ke Selecta dan Songgoriti.
Mereka banyak yang mengendarai mobil pribadi.
Seperti sedan Bell Air, Impala, dan Holden.
Sementara bus lebih sering digunakan kadet dari Akademi Angkatan Laut (AAL) di Surabaya.
Kemudian bagi masyarakat yang ingin melanjutkan perjalanan ke daerah lain seperti Pujon dan Ngantang, mereka menggunakan kendaraan suburban.
“Malah kalau ke Ngantang menggunakan mobil bekas perang Power Wagon dan kalau ke utara pakai Plymouth,” beber Didik.
Malah saat itu sudah juga ada beberapa kendaraan umum jenis lain yang juga beroperasi untuk angkutan niaga.
Seperti truk engkel jenis H3, AKA, dan KMN yang digunakan untuk angkutan niaga.
Sementara dalam kota cenderung menggunakan dokar atau sepeda pancal.
Bisnis bus NV B.O.M. akhirnya semakin meredup.
Sekitar tahun 1967, bus tersebut sudah tidak terlihat beroperasi. (*/fat)
Editor : Aditya Novrian