Para Menteri Pariwisata yang tergabung dalam Ministerial Meeting G20 mensepakatai Bali Guideline yang terdiri dari 5 poin. Jika dikaitkan dengan Malang Raya maka,
Pertama, Investasi sumber daya manusia di Malang raya sangat mungkin untuk terus digenjot. Keberadaan SMK yang berkaitan dengan pariwisata cukup banyak tersedia dan tentunya juga relevan dengan bidang ekonomi kreatif. SMK berbasis perhotelan, tata boga, dan agribisnis yang menopang industri kreatif tersedia cukup beragam, termasuk ketersediaan Teaching Factory, seperti mini hotel juga tersedia. Perguruan Tinggi berbasis pariwisata juga tersedia semakin beragam seperti program studi yang di kelola oleh Universitas Merdeka Malang, Universitas Brawijaya atau Politeknik Negeri Malang yang berupaya mengombinasikan antara pariwisata dengan Bahasa asing, yang tentunya ini mendorong menuju Pariwisata Malang Raya yang mendunia. Termasuk program – program studi yang relate yang dikelola oleh berbagai perguruan tinggi di Malang Raya.
Kedua, Inovasi, digitalisasi dan ekonomi kreatif. Malang jadi gudangnya para pelaku ekonomi kreatif, salah satunya sub sektor permainan dan animasi yang berkembang cukup pesat, yang salah satu dukungannya berasal dari keberadaan berbagai SMK dan perguruan tinggi yang relate dengan bidang ini. Ekosistemnya pun mulai terbentuk dengan baik. Infrastruktur fisik yang menarik adalah keberadaan MCC yang megah berdiri, harapan dan PR-nya adalah semoga kemegahan ini benar – benar menghasilkan talenta – talenta muda yang bergerak di berbagai sub sektor ekonomi kreatif. Diantaranya adalah Game developer dan animasi, kriya, dan kuliner. Bagaimana menjadikan keramik Dinoyo mendunia, kripik tempe go ekspor ataupun produk – produk lainnya yang “berserakan” di Malang Raya ini.
Ketiga, Pemberdayaan perempuan & pemuda. Banyak sudah contoh – contoh bagaimana para pelaku wisata ini melibatkan para perempuan utamanya pada aktivitas pendukung pariwisata, seperti di penyediaan makanan dan minuman, pekerja di perhotelan dan guest house. Termasuk pekerja dan pengusaha ekonomi kreatif. Anak – anak muda yang mengembangkan wisata ramah lingkungan di Pantai Tiga Warna, Café Sawah Pujon Kidul dan beberapa desa wisata yang ada merupakan representasi anak muda yang terus berkembang dan melibatkan diri dalam pengembangan pariwisata.
Keempat, Aksi nyata berkaitan dengan perubahan iklim, konservasi biodersity dan ekonomi sirkular. Upaya ini secara riil dilakukan, seperti TPA di Kepanjen yang mampu menghasilkan 500 – 700 watt daya listrik dan TPA Supiturang yang mampu mendorong terwujudkan energi terbarukan. Memang ini masih dalam proses pematangan, namun ini adalah awal yang baik.
Kelima, Tata kelola dan investasi. Tata kelola pada tingkatan kabupaten/kota tentunya sudah diupayakan secara optimal, walaupun perlu penguatan dan penyempurnaan. Yang menarik adalah bagaimana mensinergikan pada tingkatan klaster yang terdiri dari beberapa kabupaten kota, seperti Malang Raya, bahkan bisa dikoneksikan dengan Pasuruan dan Probolinggo. Upaya komunikasi efektif, kolaborasi dan sinergi perlu dilakukan. Tata kelola pada tingkatan klaster (eks karesidenan, misalnya) menjadi hal yang menarik untuk direalisasikan. Dan investasi perlu dipertimbangkan baik – baik. Sebagai contoh terwujudnya hotel bintang 5 dimalang, memberi pelajaran berharga bagi Malang Raya, bagaimana MICE bisa dilakukan di Malang Raya. Jika kita ingin event MICE yang berskala lebih besar lagi maka saatnya kita semakin berbenah menyiapkan infrastruktur keras maupun lunak untuk tersedia dengan baik. Walau butuh waktu beberapa saat kedepan.
Ada catatan yang menjadi spirit menarik dari G20 yakni bagaimana posisi presidensi yang diemban Indonesia, mampu mengurai ketegangan ditengah – tengah perang Ukraina - Rusia, menjadi sesuatu yang cair, humanistis dan jadi “happy” day pimpinan negara. Presiden Macron yang berkenan jalan kaki dari GWK sampai Politeknik Pariwisata Bali sembari menggendong bayi lucu putra warga Bali, PM Kanada & Inggris yang Ngopi bareng, dan sajian Gala Dinner yang prestisius yang membuat para Kepala Negara berdecak kagum, happy dan rileks. Segala sesuatu tak selamanya harus dilakukan dengan cara kaku dan sangat formal. Berikutnya, bagaimana Pak Jokowi, dengan sigap menjaga Presiden Joe Biden yang hampir terjatuh di Pendopo Taman Hutan Rakyat Ngurah Rai, sederhana memang, tapi itu menjadi catatan manusiawi yang penuh nilai – nilai. Dengan suasana yang tak kaku tersebut maka berhasillah disahkan G20 Bali Leaders Declaration yang tentunya tidak hanya sekedar komitmen kebijakan saja. Namun dapat diwujudkan pada aksi nyata (concrete deliverables) dalam wujud 140 project bilateral dan 309,6 milyar USD, walaupun harapannya bukan hanya sekedar itu. Dampak jangka menengah dan panjang dapat dicapai dengan baik, lebih luas dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas, walau itu tak mudah. Upaya perwujudan arsitektur global, transisi energi, dan transformasi digital dapat diwujudkan dengan baik. Semoga spirit baik ini menjadi teladan baik bagi kita untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik. Recover Together, Recover Stronger, memang tak sekedar tema tanpa makna. (*)
*Pengamat Ekonomi Pariwisata & Dosen Politeknik Negeri Malang Editor : Mardi Sampurno