Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ruwatan Sudhamala

Aditya Novrian • Selasa, 16 Juli 2024 | 20:17 WIB

Photo
Photo

BERDASARKAN naskah-naskah kuno yang selaras dengan relief-relief di beberapa candi era Majapahit seperti candi Penataran dan candi Sukuh, terdapat sebuah upacara ritual penting bagi keselarasan hidup manusia dengan segala makhluk di sekitarnya. Yaitu Ritual Ruwatan Sudhamala.

Setelah melalui proses pengumpulan referensi, studi dan diskusi yang dilakukan oleh Paguyuban Bawarasa Pametri Budhaya, ritual kuno yang hampir tidak pernah dipraktekkan lagi itu berhasil direkonstruksi dan dipraktikkan dalam bentuk yang sebisa mungkin mendekati urutan upacara yang seharusnya dilakukan. Tentu juga ada sentuhan interpretasi yang disesuaikan dengan konteks era kekinian.

Apa yang telah terjadi di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Batu pada Sabtu (13/7) adalah kali kedua Paguyuban Bhawarasa Pametri Budhaya melayani perhelatan Ruwatan Sudhamala. Karena antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi dalam ritual tersebut, peserta berjumlah 56 melebihi target semula yang dibatasi hanya 40 peserta saja.

Sebuah penanda bahwa ada kerinduan besar agar tersedia ruang-ruang untu mengekspresikan dan menghayati tradisi budaya agung leluhur Nusantara. Sebuah tradisi indah yang menyadarkan jati diri manusia seutuhnya sebagai bagian tak terpisah dari keindahan semesta.

Photo
Photo

Ki Dalang Ruwat Bondhan Rio Prambanan melalui pagelaran kisah wayang Sudhamala mengingatkan kepada seluruh yang terlibat dalam upacara agung itu agar berani mengenali jati diri pribadi yang terbaik untuk selanjutnya berjumpa dengan sesama dan segala makhluk dengan jiwa welas asih dan penuh kemerdekaan. Demi menjalani kesadaran itu, dalam rangkaian ritual ruwatan peserta menandai kesediaan kerelaan dirinya dengan simbol pagas rigma  (pemotongan sejumput rambut) dan bur manuk (melepaskan burung perkutut).

Didampingi oleh Nyi Apidiana dan ki Joko Laksono sebagai pengelola suguh (perlengkapan persembahan ritual) dan ujub pandonga (keutuhan simbol relasi pada yang empunya kuasa semesta), Ki Dalang menempatkan kesatuan antara seluruh perangkat upacara (para peserta ruwatan, sinoman, pemain gamelan, sinden, dan petugas lainnya) menjadi suatu keutuhan yang berjalan senada menjalani upacara bersama dengan khusuk namun juga penuh kelegaan dan keleluasaan kemandirian. Demikianlah makna sesungguhnya sebuah upacara ruwatan, yaitu ketika siapapun yang hadir, bahkan yang tak mampu hadir di tempatpun, mampu menyatu rasa. Berada dalam ruang dan waktu yang penuh dengan ketenangan dan ketentraman.

Para pengantar peserta ruwatan juga nampak hanyut dalam suasana sakral dan bermakna ini. Bahkan kehadiran bapak Duncan Graham seorang jurnalis Australia yang menyatu dalam persaudaraan paguyuban disambut gembira sebagai bagian dari keutuhan upacara itu. Bapak Duncan beberapa kali sempat menanyakan pertanyaan kritis sehubungan dengan cara dan nuansa upacara. Dengan melihat banyaknya peserta ruwat yang masih kanak-kanak dan remaja, menjadi paham pentingnya penyelenggaraan upacara seperti ini bagi generasi baru dan masa depan Indonesia.

Ketua Paguyuban Mohammad Irfan Junaedy menegaskan di akhir acara bahwa jika semakin banyak paguyuban tradisi budaya setempat terus berusaha memperkenalkan keteduhan keagungan tradisi setempat yang mereka miliki, tentulah karakter bangsa ini kembali menemukan akar asalinya yang telah menancap kuat di bhumi pertiwi tercinta. Menyambut utusan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, ketua paguyuban menyampaikan agar pendampingan terhadap penyelenggaraan upacara seperti ini juga dilihat sebagai proses pemberdayaan akuntabilitas perkumpulan budaya yang ada. Dengan begitu, kolaborasi antara pihak pemerintah dan paguyuban tradisi bisa menjadi bermakna dan berdampak luas bagi kemajuan bangsa. (*)

Editor : Aditya Novrian
#Kota Batu #ruwatan