SELAIN kata ”blaen”, Arek Malang familier dengan penyebutan ”drawasi”. Biasanya kata tersebut digunakan untuk mengungkapkan kekhawatiran.
Drawasi berasal dari kata dasar awas. "Ndrawasi artinya membahayakan, membuat hati was-was, atau cemas. Berasal dari kata dasar awas," terang Pengamat Bahasa Malangan Restu Respati kemarin.
Namun dalam praktiknya, pelafalan drawasi sedikit berbeda. Lidah orang Malang lebih mudah menyebut ndrawasi. Itu karena kebiasaan lidah orang Jawa kerap menambahkan huruf ”n” di awal kata dasar yang berawal dari huruf d, misalnya Dau menjadi Ndau. Hampir sama dengan penambahan m untuk setiap kata dasar berawal dari huruf b, seperti Batu menjadi Mbatu.
Contoh penggunaan drawasi adalah "Arek iku lek sepeda motoran ugal-ugalan, ndrawasi pol" (Anak itu kalau motoran kebut-kebutan. Sangat membahayakan)". (adk)
Editor : A. Nugroho