Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Habis Daring Terbitlah Hybrid Learning, Apa Sih Bedanya?

Ahmad Yani • Sabtu, 2 Januari 2021 | 01:52 WIB
Ilustrasi guru saat menyampaikan pelajaran secara daring beberapa waktu lalu. (dok/Radar Malang)
Ilustrasi guru saat menyampaikan pelajaran secara daring beberapa waktu lalu. (dok/Radar Malang)
MALANG KOTA – Selama hampir dua semester menjalani pembelajaran daring, berbagai kendala dihadapi pelaksana maupun peserta didik. Pakar pendidikan sekaligus dosen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang Dr Gatot Sarmidi MPd menyebut, proses pembelajaran daring yang berlangsung saat ini masih jauh dari optimal.

”Kalau bicara efektivitas, tentunya tidak efektif karena pembelajaran secara luring memang metode paling pas untuk mendidik para siswa. Namun, situasi pandemi memaksa (pembelajaran) luring harus dibatasi. Jadi mau tidak mau harus diterapkan daring,” ujar Gatot.

Kurangnya pemahaman siswa atas materi yang diberikan, Gatot menyebut, menjadi salah satu indikator kegagalan sistem daring. Termasuk banyaknya keluhan siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. ”Siswa dituntut untuk belajar mandiri, tapi karena tidak paham materi yang diberikan, maka kebanyakan dari mereka memilih untuk meninggalkannya. Orang tua pun kurang kontrol terhadap itu,” terang dosen jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia itu.

Hybrid learning disebut Gatot menjadi sistem paling mudah diadaptasi para guru terutama di Kota Malang. Yakni dengan dengan menggunakan video dalam proses pembelajaran. ”Bukan sekadar video pembelajaran pasif yang sekadar diberikan kepada siswa, namun ada peran guru dan beberapa siswa dalam video tersebut. Seperti memberi contoh langsung pengaplikasian pembelajaran yang ada beberapa siswa juga di dalamnya,” jelasnya.

Hal lain yang bisa diadaptasi yakni dengan guru menjelaskan secara langsung ketika pembelajaran berlangsung. Contohnya ketika sedang zoom meeting dengan para siswa, guru tak hanya menjelaskan melalui kata-kata, tetapi mengajak para siswa untuk ikut aktif untuk menciptakan suasana nyata dalam zoom tersebut. Penggabungan teknologi semacam inilah yang dimaksud sebagai hybird learning.

Sementara itu, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kota Malang Muhammad Salis Yuniardi SPsi MPsi PhD berpendapat bahwa sistem hybrid learning masih dilematis untuk diterapkan. Menurut dia, pembelajaran secara daring pun belum sepenuhnya optimal dengan berbagai keterbatasannya. Ini karena fasilitas penunjang yang belum siap sepenuhnya. ”Pembelajaran hybrid dengan tetap menerapkan protokol kesehatan saya rasa merupakan jalan kompromi terbaik,” jelas dekan Fakultas Psikologi Univesitas Muhammadiyah Malang (FPsi UMM) itu.

Meski demikian, jika diterapkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dan beberapa sekolah harus mempersiapkan sistem tersebut termasuk dari segi fasilitas penunjangnya. Persiapan seperti materi dan metode online maupun offline juga harus memperhatikan kondisi siswa juga sosial ekonomi keluarga. ”Yang terpenting harus sosialisasi, terutama bagi wali murid khususnya untuk siswa SD agar orang tua bisa memastikan dan mendukung program,” ujarnya.

Pewarta: Chosa S, Aditya N.
Editor : Ahmad Yani
#JPRM #COVID-19 #RMC #hybrid learning #RMO #Daring #pendidikan #luring