”Wong sing mbulet pas ditagih utange sawaten karo bandempo ae,”
Bandempo
Istilah ini awalnya diadopsi dari permainan anak-anak zaman dulu. Seiring berjalannya waktu, kata bandempo juga banyak dipakai untuk menggambarkan bentuk badan seseorang yang besar. Budayawan Malang Dwi Cahyono menjelaskan, bandempo merupakan tanah liat yang dibentuk bulat menyerupai bola tenis.
”Kalau sekarang sama seperti lilin mainan. Tanah liat itu tidak bisa mengeras, kadang dicampur pasir sesuai keinginan yang memainkannya,” terang dia. Sebelum era 1970-an, mainan tersebut tidak memiliki sebutan umum.
Baru setelah tahun 1970, kata bandempo mulai dipakai setelah acara lawak Srimulat mulai mengudara. Waktu itu, ada tokoh yang dipanggil dengan nama bandempo. Alasannya karena memiliki badan gemuk dan cenderung bulat.
Karena popularitas dan ciri badan gemuk dari pemeran dengan nama asli Wadino itu, dipakailah istilah itu untuk menamakan permainan tersebut. ”Karena sama-sama bulatnya, akhirnya mainan tanah liat itu disebut bandempo,” imbuh pemilik Yayasan Inggil tersebut.
Tafsir lain disampaikan Sejarawan Bahasa Malangan Restu Respati. Dia memperkirakan bahwa istilah bandempo berasal dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur budaya Mataraman. ”Kalau ada pemisahan kata dan diucapkan memakai logat Jawa Tengahan akan menjadi 'bandem po?', yang artinya 'mau dilempar?,” kata dia. Itu berkaitan dengan anak-anak zaman dulu yang sering bermain di sungai dan melempar tanah sungai ke teman-temannya. (biy/by)
Editor : A. Nugroho