JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyampaikan kesiapan stok bahan pangan Indonesia di tengah memanasnya konflik perang USA-Israel melawan Iran. Pernyataan ini disampaikannya di kantor Kementerian Pertanian pada Jumat (6/3/2026).
Mentan Amran menjelaskan bahwa cadangan pangan nasional saat ini mencapai angka yang sangat aman.
Baca Juga: Menjamin Mutu Masa Depan: Mengapa Akreditasi Menjadi Kompas Utama Memilih Perguruan Tinggi?
Indonesia memiliki cadangan stok di Bulog, Horeka, dan lahan sawah dengan total mencapai 3,76 juta ton.
Ia menegaskan bahwa cadangan ini dapat bertahan selama 324 hari jika diasumsikan tidak ada produksi baru sama sekali di dalam negeri. Angka ini menunjukkan ketahanan pangan Indonesia dalam kondisi darurat sekalipun.
Lebih lanjut, Mentan menjelaskan bahwa produksi dalam negeri tidak pernah berhenti. Setiap bulan, Indonesia memproduksi pangan antara 2,6 juta hingga 5,7 juta ton, sementara kebutuhan domestik hanya 2,5 juta ton per bulan.
Kondisi ini menciptakan nilai surplus yang terus bertambah setiap bulannya.
Hal ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mencapai status negara swasembada pangan yang berkelanjutan.
Mentan Amran menegaskan bahwa memanasnya situasi di Timur Tengah sudah masuk ke dalam kalkulasi pemerintah.
Ia menjamin konflik tersebut tidak akan mengganggu produksi pangan domestik karena fokus utama adalah penguatan dalam negeri.
Menghadapi kondisi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, Mentan Amran akan melakukan pengecekan lapangan secara rutin.
Langkah ini untuk memastikan distribusi berjalan lancar dan harga tetap terkendali.
Ia mengakui adanya kenaikan kecil pada komoditas seperti daging ayam sekitar 0,68 persen.
Namun Mentan menganggap hal itu wajar sebagai bentuk apresiasi agar para peternak juga bisa merayakan hari raya dengan layak.
Pemerintah terus berkomitmen menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Masyarakat diimbau tidak perlu khawatir dan tetap tenang menghadapi situasi global yang sedang memanas.
Penulis: Satya Eka Pangestu - Mahasiswa Universitas Negeri Malang
Editor : Aditya Novrian