Refleksi atas Masa Depan Profesi Kehumasan di Tengah Revolusi Kecerdasan Buatan
Oleh : I Gede Alfian Septamiarsa, S.Sos, M.I.Kom
Perkembangan teknologi terus bergerak lebih cepat dari kemampuan kita merasakannya. Sementara sebagian orang masih menikmati kerja manual dalam menyusun press release, mengelola publikasi, dan menyiapkan materi pimpinan, di ruang lain kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah menuliskan draft siaran pers hanya dalam hitungan detik, membuat desain grafis instan, hingga menyusun strategi komunikasi berbasis data.
Pertanyaan yang mulai menggelitik para praktisi humas pun mengemuka, apakah AI akan menggantikan humas? Atau justru kehadirannya memperkuat kinerja humas?
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Disrupsi teknologi telah mengubah lanskap komunikasi publik. Jika dulu humas mengandalkan konferensi pers, rilis media, atau liputan langsung, kini publik bergerak ke platform yang serba cepat. Sebut saja melalui TikTok, Instagram Reels, X, hingga percakapan di ruang digital yang masif dan penuh dinamika.
Dalam ekosistem ini, AI hadir bukan sekadar alat bantu, tetapi mesin yang mampu membaca pola percakapan, memprediksi sentimen publik, bahkan menyarankan narasi mana yang lebih efektif agar pesan pemerintah atau korporasi tepat sasaran.
Namun pertanyaan sejatinya bukan apakah AI akan menggantikan humas, melainkan bagaimana humas beradaptasi dengan AI. Sejarah menunjukkan bahwa profesi yang tak mengikuti arus inovasi akan tertinggal, tetapi mereka yang merangkul perubahan justru menciptakan lompatan baru. Perlu kita sadari bersama bahwa mesin tidak menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan mesinlah yang menggantikan mereka yang tak menggunakannya.
Dalam banyak instansi, humas sering diidentikkan sebagai pelaksana teknis. Diantaranta menulis berita, memotret, mengunggah konten, dan mengelola hubungan media. Tetapi dengan hadirnya AI, peran teknis ini mulai digantikan oleh automasi. Press release dapat dibuat cepat melalui AI writing assistant atau aplikasi lainnya yang menggunakan AI.
Kemudian monitoring media dapat dikerjakan mesin dengan hasil analitik yang terstruktur. Bahkan grafik insight publik kini dapat terbaca hanya dengan beberapa klik.
Namun justru pada titik ini peran strategis humas menjadi semakin penting. Jika dulu humas bekerja keras membuat konten, kini humas harus mengarahkan apa tujuan konten itu, narasi apa yang ingin dibangun, dan perubahan apa yang ingin dicapai dalam persepsi publik.
Humas tidak lagi hanya menjadi operator informasi, tetapi kurator makna. Mereka meramu pesan dengan sensitivitas, memahami konteks sosial, menangkap nuansa psikologis audiens, dan menjahit kata-kata menjadi jembatan kepercayaan. AI bisa memberikan data, tapi interpretasi makna dan empati komunikasi tetap milik manusia.
Mengapa AI Tidak Bisa Sepenuhnya Menggantikan Humas?
Jawabannya sederhana saja. Karena kehumasan bukan hanya soal produksi informasi, tetapi soal menjaga relasi. Sebagaimana makna dasar dari public relations, menjaga relasi dari berbagai stakeholder atau publik.
Humas sendiri memiliki sentuhan manusiawi, empati saat menjawab kritik, intuisi ketika menentukan waktu publikasi, dan kebijaksanaan saat menghadapi krisis.
Dalam komunikasi pemerintah, misalnya, tidak semua pesan cukup hanya dengan “benar.” Pesan tersebut harus diterima publik, dipahami publik, dan yang paling utama yaitu dapat dipercaya publik.
AI mampu memproduksi kata-kata, tetapi tidak memiliki sejarah sosial, pengalaman emosional, atau kemampuan membaca ekspresi khalayak secara intuitif. Dalam konferensi pers, kehadiran humas bukan sekadar pengantar acara, tetapi penjaga wibawa institusi. Saat menghadapi isu sensitif, AI mungkin menyarankan jawaban netral, namun humas memahami bahwa publik perlu dirangkul dengan empati, bukan hanya logika data.
Dengan demikian, AI bukan ancaman bagi humas. AI adalah pendorong evolusi humas.
Kolaborasi Strategis Manusia & AI
Mari kita bayangkan skenario sederhana seorang humas pemerintah harus menyiapkan siaran pers terkait kebijakan publik dalam waktu singkat. AI membantu merumuskan draft awal. Humas kemudian menyempurnakannya dengan kondisi dan data di lapangan, dan biasanya disisipi gaya penulisan masing-masing humas. Di saat bersamaan, AI melakukan monitoring sentimen publik dan merekomendasikan kanal komunikasi paling efektif. Lalu humas memutuskan strategi interaksi dengan publik melalui pesan personal, dialog, dan engagement.
AI mempercepat proses, tetapi sentuhan manusia memberi jiwa.
Dalam perspektif praktis, integrasi humas dan AI dapat bekerja melalui beberapa cara antara lain AI untuk efisiensi produksi, humas fokus pada kreativitas, storytelling, dan kebijakan narasi.
Kemudian AI sebagai radar sentimen publik, humas menjadi navigator respons. AI memetakan data, humas menerjemahkannya menjadi keputusan komunikasi publik. AI mendesain template visual, humas memberi karakter dan identitas emosional.
Dengan demikian, Humas yang cakap AI adalah humas yang naik kelas. Bukan lagi sekadar penulis press release, melainkan arsitek komunikasi.
Tantangan Baru: Etika, Bias AI, dan Post-Truth
Meski membuka peluang besar, kehadiran AI memberikan tantangan tersendiri. Pertama, soal etika informasi. AI bisa menciptakan pesan dengan cepat, tetapi tanpa penyaringan nilai dapat memunculkan informasi yang tidak sensitif, menyesatkan, atau bias. Kedua, humas harus menghadapi era post-truth, di mana kebenaran tidak cukup hanya faktual, tetapi juga harus emosional dan harus mengutamakan empati. Dalam kondisi ini, kecepatan AI harus diimbangi integritas dan literasi digital humas.
Ketiga, risiko misuse teknologi juga mengintai. Deepfake, manipulasi konten, dan disinformasi semakin canggih. Bila humas tidak mengambil peran sebagai penjaga kebenaran, ruang publik bisa dipenuhi narasi palsu yang viral lebih cepat daripada klarifikasi.
Maka tugas humas di masa depan bukan hanya mengomunikasikan kebijakan, tetapi menjaga marwah informasi dan membangun ekosistem komunikasi publik yang beretika.
Humas Tidak Akan Tergantikan oleh AI
AI bukan akhir profesi humas. AI adalah awal fase baru, dimana para humas dituntut lebih strategis, lebih reflektif, dan lebih manusiawi. Mesin mungkin mampu menyusun kata-kata, tetapi kehangatan tatap muka, pengelolaan kecerdasan emosional, kemampuan membaca situasi, kecepatan dan ketepatan pemgambilan keputusan, serta seni merangkai narasi tetap menjadi kekuatan utama manusia.
Jika humas tidak menggunakan AI, ia mungkin tertinggal. Tetapi jika humas merangkul AI dalam penunjangan pekerjaan sehari-hari, ia justru dapat melompat lebih jauh menjadi pemimpin komunikasi yang adaptif, transformatif, dan visioner.
Pada akhirnya, kita mengetahui bahwa kehadiran AI bukan untuk menggantikan tugas dan peran humas. AI hadir untuk menguatkan humas apabila mereka bersedia bertransformasi. Humas tidak mati oleh teknologi, tetapi semuanya akan berkembang lebih pesat lagi.
Penulis: Seorang Pranata Humas Ahli Muda Biro Administrasi Pimpinan Setda Prov. Jatim
Editor : A. Nugroho