Alat yang saat ini masih berupa prototipe ini rencananya akan diproduksi secara massal. Agar bisa membantu banyak penyandang tuna daksa mengakses lebih banyak jenis pekerjaan. "Harapannya lapangan pekerjaan mungkin bisa terbuka suatu saat, mungkin bisa jadi tenaga admin di kelurahan, kecamatan atau dimana-mana,” ungkap Ketua Tim Peneliti Mouse Difabel Dr Eng Romy Budhi MT.
Penelitian yang telah dilaksanakan sejak tahun 2018 ini dikhususkan bagi penyandang tuna daksa yang tidak memiliki lengan bawah. Sehingga mereka masih bisa menggerakkan kursor menggunakan bagian tubuh atau lengan atas yang berfungsi.
Untuk cara kerjanya, alat sensor dipasang di bagian lengan atas dan dihubungkan pada laptop atau komputer melalui Bluetooth. Sehingga kursor atau penunjuk pada layar komputer akan mengikuti setiap gerakan lengan pengguna, baik ke bawah atau atas, serta arah kiri dan kanan. "Misalnya saya pasang sensor, kalau saya naikkan gini kursornya ikut naik. Terus, untuk klik kirikanan pakai kaki seperti mesin jahit,” terang Romy.
Sebagai langkah serius melakukan produksi massal, Budhi telah mematenkan temuan tersebut. Dia juga berencana mencari investor, agar alat temuannya bisa diproduksi dan berguna bagi banyak orang. "Saat ini levelnya masih di level enam atau purwa rupa. Ke depannya masih ingin meningkatkan hingga ke level sembilan agar bisa di difabrikasi. Harapannya dengan dipublikasikan lewat media massa, ada investor tertarik membiayai temuan ini,” paparnya.
Saat ini, menurut Budhi, untuk satu mouse difabel yang merupakan prototipe menghabiskan biaya sebesar Rp 400 ribu. Namun dengan dilakukan fabrikasi, biaya tersebut bisa ditekan. Sehingga harga jualnya tidak terlalu mahal. Temuan ini juga sudah pernah dipamerkan dalam acara peluncuran Unit Layanan Disabilitas Kabupaten Malang pekan lalu (23/12). (adk/nay) Editor : Mardi Sampurno