Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kompetensi Mahasiswa Profesional Ditentukan Attitude, Skill dan Knowledge Mengikuti

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 14 September 2023 | 21:43 WIB
Suasana Pesmaba Vokasi UMM 2023 di GKB IV lantai 4 kampus 3 UMM
Suasana Pesmaba Vokasi UMM 2023 di GKB IV lantai 4 kampus 3 UMM

MALANGAttitude, knowledge dan skill adalah tiga aspek kompetensi yang diperlukan agar survive di dunia praktisi.

Hal ini ditegaskan Heru Cahyo Utomo, SE MM, praktisi bidang leadership dan properti asal Malang kepada mahasiswa Vokasi UMM

"Kompetensi adalah persilangan knowledge, skill, dan attitude," kata Heru saat Pesmaba 2023 Vokasi UMM, Kamis (14/9).

Menurut Heru, kompetensi kerja adalah kebutuhan terpenting bagi dunia industri dan praktisi.

Mahasiswa vokasi yang berniat terjun di dunia profesional pun harus memahami soal tiga aspek kompetensi itu.

"Attitude atau adab dan perilaku, mendominasi porsi kompetensi di mata industri dan dunia praktisi," ujar mantan bankir itu.

Karena, industri lebih membutuhkan orang jujur dan disiplin ketimbang yang sekadar punya keterampilan dan pengetahuan.

"Vokasi sudah tepat menerapkan banyak praktik daripada teori. Karena, dunia kerja tidak mau cari orang noob. Industri sudah cari yang pro," kata pengusaha properti itu.

Dia menambahkan, mahasiswa yang profesional, harus punya tujuan yang jelas.

Mereka juga harus sudah tahu apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mencapainya.

Sementara itu, Dr Tulus Winarsunu MSi Direktur Pendidikan dan Pelatihan Vokasi UMM menegaskan kurikulum praktisi untuk mahasiswa vokasi adalah keniscayaan bagi dunia industri Indonesia saat ini.

Kolaborasi industri dan pasar untuk menilai kemampuan praktis mahasiswa tak terelakkan bila ingin menghasilkan sumber daya manusia kompeten.

"Jika dunia akademik jalan di daratan, maka vokasi sebagai pendidikan praktisi harus jalan di air. Sejak semester 1, kuliah vokasi harus tidak sama dengan S1," ujar Tulus di GKB IV kampus 3 UMM.

Untuk mewujudkan itu, Tulus menyebut kerja sama dengan dunia industri dan asosiasinya menjadi vital.

Sebab, kurikulum vokasi harus datang dari dunia industri dan asosiasi.

Setelah kompeten di bagian unit industri tertentu, mahasiswa vokasi menerima sertifikasi langsung dari asosiasi industri itu.

"Sehingga, penilaian mahasiswa vokasi kompeten atau tidak, ditentukan langsung dunia industri dan asosiasi praktisi tersebut," kata Tulus.

Dia mencontohkan, mahasiswa D4 agribisnis, diajari langsung para juru sembelih halal.

Begitu dianggap kompeten menyembelih halal, mahasiswa itu mendapat sertifikat langsung, tanpa menunggu lulus.

"Ini adalah contoh pendidikan demand driven. Industri dan pasar butuh SDM yang bagaimana, ya silakan industri dan pasar itu mengajar mereka. Beri kurikulum dan langsung nilai juga," tambahnya.(fin)

 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Vokasi #UMM