Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Seluruh Perguruan Tinggi Mulai Adaptasi Program Kampus Berdampak

Bayu Mulya Putra • Selasa, 3 Juni 2025 | 20:14 WIB
selayang pandang program kampus berdampak
selayang pandang program kampus berdampak

MALANG RAYA – Kebijakan baru untuk pendidikan tinggi sudah dirumuskan pemerintah pusat. Program Kampus Merdeka kini diganti dengan Kampus Berdampak. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) resmi meluncurkan program baru itu pada 2 Mei lalu.

”Peserta Program Kampus Berdampak adalah seluruh perguruan tinggi seperti universitas, institut, sekolah tinggi, dan politeknik,” kata Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek RI Togar Mangihut Simatupang, kemarin (2/6).

Dengan begitu, 62 perguruan tinggi di Kota Malang bakal ikut menerapkannya Terdiri dari 57 perguruan tinggi swasta (PTS) dan lima perguruan tinggi negeri (PTN). Koordinator Program Kampus Berdampak di Universitas Brawijaya(UB) Nila Firdausi Nuzula SSos MSi PhD memastikan pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada mahasiswa.

”Sosialisasi dilakukan secara berjenjang,” kata dia, kemarin (2/6).

Dimulai dengan sosialisasi kepada wakil dekan di masing-masing fakultas. Selanjutnya sosialisasi dari wakil dekan kepada kepala program studi (KPS). Baru kepada mahasiswa. Secara umum, Nila menyebut bahwa mekanisme pelaksanaan program Kampus Berdampak sama dengan Kampus Merdeka.

Mahasiswa juga diminta membuat akun di Massive Open Online Course (MOOC). Kemudian mereka mendaftar sesuai program mata kuliah yang relevan. Ada delapan program yang bisa diikuti mahasiswa (selengkapnya baca grafis).

”Biasanya yang paling banyak diikuti adalah MSIB (Magang dan Studi Independen Bersertifikat), karena ada tambahan uang saku atau insentif yang diberikan bulanan kepada mahasiswa,” tambah perempuan yang juga dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Administrasi (FIA) UB tersebut.

Salah satu perbedaannya yakni waktu pelaksanaan program. Di Kampus Berdampak, minimal mahasiswa semester enam ke atas yang bisa mengikutinya.

”Kebanyakan mahasiswa ikut programnya saat semester enam sebanyak satu kali. Ada juga yang ikut dua kali, tapi tidak banyak karena khawatir telat lulus,” sambung Nila.

Sebelumnya, di program Kampus Merdeka, setiap program bisa diikuti mahasiswa aktif dari berbagai jenjang. Ada yang sebelum semester enam sudah mengikutinya. Kampus lain yang bersiap menerapkan program baru itu yakni Politeknik Negeri Malang (Polinema).

Pembantu Direktur I Politeknik Negeri Malang (Polinema) Kurnia Ekasari menyatakan, pelaksanaan Program Kampus Berdampak di tempatnya masih menunggu petunjuk teknis dari Kemendiktisaintek.

”Selain itu, kami juga akan melakukan monitoring evaluasi untuk kelancaran Kampus Berdampak ke depan,” kata dia.

Terpisah, Kepala Biro Humas Universitas Merdeka (Unmer) Malang Razqyan Mas Bimatyugra Jati mengaku, pihaknya juga sudah memberikan sosialiasi kepada mahasiswa untuk program baru tersebut. Kemudian juga ada bimbingan teknis untuk tenaga pengajar yang berlangsung di Ponorogo pada 23 Mei lalu.

Jati melanjutkan, pelaksanaan program Kampus Berdampak menitikberatkan pada riset yang sudah dibuat kampus. Selain itu juga hilirasi penelitian dosen.

”Kemudian antar- kampus juga akan berkolaborasi untuk berkembang bersama-sama,” terang lelaki yang juga Dosen Arsitektur Unmer tersebut.

Dalam program Kampus Berdampak, perguruan tinggi diklasifikasikan dalam tiga tingkatan. Yakni mandiri, utama, dan madya. Klasifikasi digunakan untuk mengelompokkan perguruan tinggi berdasar kinerja mereka dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan aspek lain yang relevan.

Kategori tertinggi,yakni mandiri,  bisa diasumsikan yang terdepan dan unggul. Kategori utama bias diasumsikan kinerja kampus itu terus berkembang. Sementara kategori madya bisa diasumsikan masih dalam tahap pengembangan.

Razqyan menyebut bahwa Unmer masuk kategori kampus utama. Untuk men-upgrade, pihak kampus akan bekerja sama dengan perguruan tinggi lain. Namun sampai sekarang pihaknya masih menyusun konsep kemitraan tersebut.

Secara umum, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Khairul Munadi menyebut bahwa program kampus berdampak menuntut peran perguruan tinggi sebagaipusat solusi nyata untuk ekonomi yang berkelanjutan.

”Secara umum jadi gerakan menautkan ilmu pengetahuan dengan aksi nyata di tengah masyarakat. Menyelaraskan riset yang dikerjakan akademisi dengan kebutuhan nyata di lapangan,” kata dia.

Wujudnya bisa dilakukan dengan membangun desa yang tertinggal, memberdayakan pelaku UMKM, merawat lingkungan, hingga menyiapkan generasi muda yang berdaya saing. Menanggapi perubahan sistem itu, forum rektor di Jawa Timur sudah membahasnya pada 25 Mei lalu.

”Sebenarnya sama saja, orientasinya tetap menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujar Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Prof Dr H M. Zainuddin MA.

Dia juga mengkritisi pergantian program itu, yang menurutnya kurang relevan dengan efisiensi yang sedang dialami kampus. Sebab ketika mengganti sistem pembelajaran, otomatis ada biaya, waktu, serta tenaga yang diperlukan.

”Padahal saat ini seluruh lini pemerintahan dan pendidikan sedang bergelut dengan efisiensi,” lanjut dia.

Sebagai contoh, biaya hibah penelitian di UIN Maliki dipangkas hingga 70 persen.Padahal dengan penelitian,  kampus UIN Maliki Malang bisa memperluas dampaknya kepada masyarakat.

Saat ini, Zainuddin bersama rektor lain masih memantau perkembangan implementasi program Kampus Berdampak. Dia berharap ada dukungan dari pemerintah pusat apabila perubahan program itu membutuhkan biaya tambahan.

”Asalkan implementasinya didukung penuh dari pusat, kami siap saja menerima,” papar dia.

Di tempat lain, Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Prof Junaidi Mistar MPd PhD menyebut bahwa program kampus berdampak bakal lebih banyak mengambil porsi penelitian di masyarakat.

Perbedaan mendasar, kalua dulu banyak penelitian yang berujung pada terbitnya jurnal saja, ke depan hasil penelitian itu harus diimplementasikan kepada masyarakat.

”Bisa jadi nanti porsi penelitian dengan pengabdian masyarakat mengambil porsi lebih besar untuk kenaikan jabatan,” ujar Junaidi.

Di program kampus berdampak, program-program seperti Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) ke kampus luar negeri bakal dikurangi. Porsinya digantikan program mahasiswa membangun desa yang kurang peminat saat program kampus merdeka. (mel/aff/by)

Editor : A. Nugroho
#kemendiktisainstek #UB #MSIB #PTN