BEBERAPA hari belakangan ini, jagat maya dipenuhi postingan tentang ancaman gempa megathrust (berkekuatan besar).
Informasi tersebut meresahkan masyarakat, meski belum teruji kebenarannya.
Tentu bukan karena frekuensi gempa yang membuat masyarakat resah dan cemas.
Sebab, gempa bukan hal baru bagi warga Bumi Arema.
Berdasar catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika III Malang, ada 5.412 kali gempa bumi selama delapan bulan terakhir.
Yakni Januari sampai Agustus 2024. Sebanyak 204 kejadian di antaranya terpusat di Malang raya, khususnya Kabupaten Malang.
Baca Juga: Malang Dilanda Gempa Tiap Dua Hari Sekali
Selama Agustus ini saja sudah ada 15 kali gempa di Bumi Arema.
Jika dirata- rata, setiap dua hari sekali dilanda gempa bumi.
Namun rata-rata magnitudonya kecil. Di bawah 5 Skala Richter (SR), sehingga masyarakat tidak merasakan apa-apa.
Juga tidak ada dampaknya.
Setidaknya, tidak ada laporan korban gempa harian yang masuk ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Yang membuat isu gempa megathrust meresahkan ada lah kekuatannya. BMKG menyebut, magnitudo gempa megathrust bisa mencapai 9,0 SR lebih.
Itu setara gempa yang diiringi tsunami di Aceh pada 2004 lalu.
Sekitar 230.000 warga tanah rencong meninggal dunia akibat bencana itu.
Pemerintah daerah (peda) di Malang raya memang sudah mengedukasi warga nya.
Salah satunya melalui simulasi mitigasi bencana.
Dalam simulasi tersebut dipraktikkan langkah penyelamatan jika sewaktuwaktu terjadi gempa.
Ya, bencana memang datang sewaktu waktu.
Tidak ada yang bisa memprediksi.
Hingga kini, teknologi secanggih apa pun tidak bisa memprediksi kapan terjadinya gempa dan berapa magnitudonya.
Selain magnitudo, ketidakpastian kapan terjadinya gempa juga memicu kecemasan di masyarakat.
Cemas jika sewaktuwaktu terjadi gempa.
Baca Juga: Waspada Megathrust, Pastikan 1.725 Bangunan di Kota Malang Tahan Gempa
Filsuf eksistensialisme asal Denmark Soren Kierkegaard berpandangan bahwa kecemasan merupakan respons manusia terhadap ketidakpastian.
Sementara Martin Heidegger yang juga penganut eksistensialisme melihat ketidakpastian sebagai bagian dari keberadaan manusia yang otentik.
Menurut Heidegger, kesadaran akan kemungkinankemung kinan yang belum terwujud, termasuk potensi bencana alam, seharusnya membuat waspada dan sadar akan tanggung jawabnya dalam merespons dunia.
Dengan kata lain, meski tidak bisa memprediksi kapan terjadinya gempa megathrust, kita tetap memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan diri dan melindungi sesama.
Pandangan Martin Heidegger inilah yang diterapkan oleh BPBD maupun tim ahli kebencanaan.
Salah satunya melalui simulasi penanggulangan bencana yang terus digencarkan.
Jangan cemas hanya karena menghadapi ketidakpastia.
Bukankah ketidakpastian merupakan hukum alam yang berlaku bagi siapa saja?
Dalam hidup ini bukan hanya gempa yang tidak pasti.
Tapi semuanya.
Kita hidup dari bangun tidur sampai mau tidur lagi juga penuh ketidakpastian.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Termasuk kita tidak tahu beberapa jam ke depan akan bertemu siapa saja dan ngomong apa saja.
Semua serba misteri dan tidak pasti.
Baca Juga: Perjalanan KA di Malang Raya Sempat Terganggu karena Gempa
”Satu satunya yang pasti adalah ketidakpastian,” ungkap Albert Einstein, fisika wan asal Jerman yang menemukan teori relativitas.
Dalam menghadapi ketidakpastian gempa megathrust, Filsuf Yunani Epic tetus punya tips.
Agar tidak resah dengan ketidakpastian, Epictetus menyarankan manusia untuk fokus pada halhal yang bisa dikendalikan saja.
Menurut dia, kebahagiaan sejati dapat dicapai ketika manusia me nerima apa yang tidak bisa dikendalikan dan fokus pada yang bisa dikendalikan.
Dengan kata lain, kita tidak usah pusing pusing meng identifikasi kapan gempa megathrust terjadi.
Tapi fokus pada persiapan yang bisa dilakukan.
Salah satu nya mitigasi bencana.
Sebagai warga, kita harus memahami apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa.
Sedangkan dari sisi pemerintah, perlu menggencarkan simulasi penyelamatan sekaligus penanggulangan bencana.
Juga menyiapkan bangunanbangunan tahan gempa.
Bagaimana menurut Anda?. (*)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana