”Bangunan ini kandulunyasebuah hotel. Namanya Hotel Astor,” ujar pria yang akrab disapa Yudhi itu. Dia menambahkan, perlakuan spesial bagi tempat-tempat bersejarah memang harusdilakukan.Tujuannya agar pembelajaran terkait sejarah tidak hanya berbasis teks saja.Namun juga bisa berbasis pada bukti-bukti otentik.
Kini, satu ruangan yang sebelumnya digunakan untuk tempat arsip data itu, disulap menjadi sebuah museum mini.Bangunan di Jalan Bromo Nomor 17 itu juga menyimpan sebuah karya seni yang bisa dikunjungi siapa pun. Saat memasuki ruangan utama, pengunjung akan disuguhi pemandangan patung Jenderal Sudirman yang disekat pita berwarna merah putih. Lebih dalam masuk ke ruangan itu, pengunjung akan dimanjakan foto-foto suasana Kota Malang zaman dulu. ”Foto-foto tentang bangunan-bangunan bersejarah juga dipajang di dalam ruangan itu,” tandasnya.
Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Sony mengatakan, kisahJenderal Sudirman berkunjung ke Kota Malang, tepatnya di Hotel Astor, sebenarnya untuk kepentingan inspeksi. Saat itu Jenderal Sudirman menerima laporan inspeksi untuk mengembalikan bala tentara Jepang yang telah kalah perang.
”Jadi sejarah harus hidup tidak hanya pada lembar-lembar kertas saja. Tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari kita,” ujarnya. Menurut Sony, hal itu perlu diajarkan agar generasi penerus tidak lupa dengan sejarah. Sebab, bukti-bukti sejarahnya dapat dijangkau dengan mudah.(dre/fat) Editor : Mardi Sampurno