Sebelum dikenal sebagai pasar barang-barang bekas, Kampung Comboran dulunya merupakan terminal dokar. Setiap hari, ratusan kuda memadati area di sana. Selain untuk menunggu penumpang, di sana pula kuda-kuda itu akan diberi makan dan minum. Abdul Majid, sesepuh Kampung Comboran, paham betul seluk beluknya.
Saat ditemui Jawa Pos Radar Malang, memorinya kembali ke tahun 1960-an. Pria yang akrab disapa Abdul itu mengatakan bila dulu ada salah seorang warga generasi pertama yang memiliki usaha tetes tebu. Warga itu bernama Mbah Sastro Diharjo. Tetes tebu itu lah yang kemudian dicampur dengan air untuk minum kuda-kuda di sana. ”Dia satusatunya yang menjual minuman untuk kuda-kuda itu,” ujarnya.
Tak heran jika kawasan terminal kuda itu juga menjadi pusat nyombor atau tempat minum kuda. Dari kegiatan itu lah, kawasan di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen itu sering disebut orang sebagai Kampung Comboran. Ramainya dokar di sana tidak lepas dari adanya lintasan kereta api (KA) yang dulu tidak hanya dilewati kereta Pertamina saja. Melainkan juga kereta yang mengangkut orang.
Dari situ, Abdul menyebut dokar-dokar itu kerap digunakan sebagai angkutan estafet penumpang KA yang turun di Stasiun Jagalan. ”Kereta penumpang itu juga sering dimanfaatkan untuk mengangkut barang, sayur, dan buah-buahan,” imbuh pria yang kini berusia 66 tahun itu. Dia mengatakan, cikal bakal Kampung Comboran dulunya hanya berawal dari enam rumah yang dihuni enam keluarga. Salah satunya keluarga Mbah Sastro Diharjo.
”Saat ini bangunan rumah-rumah itu tidak tersisa lagi,” kata dia. Abdul berkisah, dulunya enam rumah itu sempat hendak digusur akibat proyek pembangunan pasar. Sebab bangunan itu disinyalir berdiri di tanah milik pemerintah. Meski begitu, masing-masing pemilik rumah itu tidak mau berpindah. ”Akhirnya melalui sesepuh kampung saat itu yang namanya Pak Suranta, kesepakatannya adalah geser ke sebelah timur,” cerita dia. Abdul menyebut bila enam keluarga itu diberikan tanah milik PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api). Masing-masing keluarga itu diberikan jatah tanah dari PJKA seluas 7 x 4 meter. Bangunan pun juga ada ketentuannya.
”Jadi kan ada enam rumah yang akan dibangun. PJKA minta setiap dua rumah itu ada jaraknya. Jadi dua rumah itu bisa berdempetan. Namun setelahnya harus diberi jarak. Seiring banyaknya pendatang, aturan itu pun tak dihiraukan lagi. Kini Kampung Comboran dihuni 670 jiwa. Itu disampaikan Muhammad Suli, Ketua RT 9, RW 6, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Dia mengatakan saat ini ada sekitar 180 KK yang tinggal di Kampung Comboran. ”Dari total penduduk yang ada, 85 persennya merupakan warga keturunan Madura,” ujar Suli, sapaan akrabnya. Penduduk asli Kampung Comboran rata-rata merupakan generasi keempat. Sejak dulu, dia menyebut bila Kampung Comboran memang dihuni oleh orang-orang Jawa dan Madura. ”Orang-orang di sini kebanyakan dari Pamekasan dan Bangkalan,” tambahnya. Dulu, dia menyebut bila orang-orang di Kampung Comboran tergabung dalam sebuah jamaah pengajian. Bercampur dengan warga Kampung Kudusan dan Kota Lama. Hingga saat ini, tradisi pengajian tersebut masih terjaga. ”Apalagi saat memperingati Maulid Nabi. Kami ada safari maulid selama 41 hari,” ujarnya.
Safari Maulid Nabi itu diisi dengan kegiatan salawat yang setiap hari dilakukan di rumah warga secara bergantian. Kedekatan itulah yang membuat bergabungnya RT 9 dan RT 10 di Kampung Comboran. ”Dulu sempat Kampung Comboran itu dibagi menjadi dua RT yakni RT 9 untuk warga yang bermukim di sebelah selatan rel kereta api. Sementara RT 10 yang berada di sebelah utara rel,” kata dia. Namun, pemisahan itu tak berselang lama.
Sebab keduanya akhirnya menjadi satu RT. Dalam buku berjudul Malang Tempo Doeloe Jilid Doea yang ditulis Dukut Imam Widodo menjelaskan, comboran yang berasal dari kata nyombor atau penyomboran merupakan salah satu bahasa perdokaran. Artinya yakni tempat memberi makan kuda. Dulu, di sana disebut dengan Jalan Van Oorschot Weg.
Sekarang namanya menjadi Jalan Irian Jaya. Penyomboran di sana merupakan tempat penyomboran terbesar di Kota Malang saat itu. Namun akhirnya tempat itu ditutup oleh Gemeente Malang untuk dijadikan pasar. Hingga saat ini penyomboran itu menjadi pusat jual beli barang bekas. (*/by) Editor : Mardi Sampurno