”Untuk motif sementara mereka kesal dengan sikap DN. Misalnya saja, mereka bilang DN suka mencuri makanan, tapi mungkin itu dilakukan karena anaknya kelaparan,” Kasat Reskrim Polres Malang Kota Kompol Danang Yudanto.
MALANG KOTA - Polisi membeberkan beberapa fakta baru dari kasus penganiayaan terhadap bocah laki-laki asal Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang Malang.
DN, 7, yang jadi korbannya diduga mengalami penganiayaan dalam kurun 1,5 tahun terakhir.
Yang lebih miris, pelakunya yakni lima anggota keluarganya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pelaku utamanya yakni Joko Ariyanto, 37, ayah korban.
Selain Joko, ada Eni, 42, ibu tiri korban juga ikut menganiaya.
Selanjutnya ada Puput Agustina, 21, kakak tiri korban.
Dua yang lainnya yakni Samiono, 43, paman tiri korban dan Misnati, 65, nenek tiri korban.
”Setiap pelaku memiliki peran masing-masing,” terang Kasat Reskrim Polres Malang Kota Kompol Danang Yudanto.
Tersangka Joko kerap memasukkan tangan DN ke dalam panci berisi air mendidih.
Dia juga kerap memukul dan menendang beberapa bagian tubuh korban.
Lidah korban juga sempat disundut dengan rokok.
Eni, ibu sambung korban juga kerap melakukan pemukulan dengan tangan kosong.
Sementara Puput pernah menjewer kuping, mencubit tangan, dan memukul pipi DN.
Hal serupa juga pernah dilakukan Samiono.
Sedangkan Misnati pernah melukai kening korban menggunakan cutter.
Kompol Danang memastikan kelima tersangka sudah diamankan.
”Mereka dikenakan Pasal 80 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman lima tahun penjara,” papar mantan Kapolsek Blimbing itu.
Polisi juga menyita sejumlah barang bukti.
Seperti kemoceng, panci listrik warna biru, cutter, dan cincin akik yang digunakan untuk melakukan penganiayaan terhadap korban.
Danang melanjutkan, tiga tersangka yang terdiri dari ayah, paman, dan kakak korban akan ditahan di Polres Malang Kota.
Sementara ibu dan nenek tiri korban ditahan di Lapas Wanita Kelas 3A Sukun.
”Karena ibunya masih punya bayi. Lalu neneknya sudah berusia 65 tahun,” imbuhnya.
Terkait kronologi kejadian, Danang menjelaskan bahwa pihaknya mendapat laporan dari warga setempat pada 9 Oktober sekitar pukul 18.00.
Keesokan harinya, perangkat setempat mendatangi lokasi untuk melakukan evakuasi.
Saat diamankan, korban berada dalam kondisi tidak bisa berdiri karena kurang gizi, sakit, dan terdapat bekas luka di bagian wajahnya.
”Untuk motif sementara mereka kesal dengan sikap DN. Misalnya saja, mereka bilang DN suka mencuri makanan. Tapi mungkin itu dilakukan karena anaknya kelaparan,” tambah Danang.
Terpisah, salah seorang warga berinisial R mengungkapkan, semula warga di sana sempat takut melapor karena waswas dengan Joko yang kerap berperilaku meresahkan.
Namun akhirnya warga melapor ke Ketua RW karena khawatir dengan kondisi DN.
”Informasi dari warga lain, DN bukan anak kandung Pak Joko maupun Bu Eni,” kata perempuan berusia 53 tahun tersebut.
Sebab, masing-masing pernah menikah lebih dari satu kali.
Lalu, sekitar tiga tahun lalu, Joko menikah siri dengan Eni, yang merupakan warga asli sana.
R menduga penganiayaan dilakukan karena faktor ekonomi.
Setiap hari Joko bekerja sebagai pedagang asongan.
Lalu, istrinya hanya mengurus rumah tangga.
”Mereka juga kurang pergaulan dan jarang ikut kegiatan warga. Sudah disuruh menikah secara sah pun mereka tidak mau,” ungkapnya.
Tetangga lain berinisal U menceritakan bila dulu kondisi DN cukup baik.
”Dia dulu gemuk dan sering dimandikan ibunya (Eni, red) di depan rumah itu?,” kata dia.
Tetangga di sekitar mulai curiga pada 26 September lalu, saat DN keluar rumah untuk menjemur baju di pelataran.
Saat itu, warga melihat kondisinya sudah memprihatinkan.
Tubuhnya kurus dan saat berjalan gemetar.
Karena iba, ada beberapa warga memberi dia roti dan susu.
Mereka juga melapor ke pejabat setempat.
”Awalnya anaknya diam saja kalau ditanya. Tapi waktu diberi roti dan susu baru mau cerita. Katanya yang menyiksa semua orang (di rumahnya). Mbah Ti, bunda Eni, dan ayah Joko,” terang U menirukan perkataan bocah berusia tujuh tahun tersebut.
Dari pengamatan wartawan koran ini di lapangan, total ada tiga rumah yang ditempati keluarga DN.
Semua berasal dari Eni, ibu sambungnya.
Di rumah dengan cat warna biru lah DN biasa tinggal.
Ketua Yayasan Anak Bangsa Yuning Kartikasari yang turut memantau kondisi DN di RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang mengungkapkan, DN kini sudah mau berkomunikasi dengan dokter.
Misalnya saja, saat diajari menggambar dan mewarnai, DN sudah merespons.
”Dia juga minta mainan pesawat, dan kami belikan. Untuk menyembuhkan traumanya memang harus bertahap,” terangnya.
Untuk memulihkan kondisinya yang kekurangan gizi, tim dokter masih memasang nasogastric tube (NGT).
Selang tersebut dipasang di hidung DN untuk membantu mengalirkan susu penambah nutrisi.
”Karena dia ingin makan wafer dan nasi, tapi belum boleh. Jadi kami fokus memberikan nutrisi dari rumah sakit,” tambahnya.
Dokter spesialis tumbuh kembang anak RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) dr Ariani MKes SpA(K) menyebut bila asupan nutrisi masih sangat diperlukan DN.
”Kami memberi dia susu tinggi kalori dan nutrisi lainnya karena untuk anak tujuh tahun, berat badannya seharusnya 20 kilogram,” tuturnya.
Pihaknya memastikan bakal memantau tumbuh kembang DN dan memulihkan traumanya.
”Dia juga masih memiliki kondisi kegawatan dari segi fisik. Katanya ada patah tulang, tapi nanti ditangani oleh dokter bedah anak,” tambahnya. (mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana