SEBAGIAN orang mengira bahwa anak yang kompetitif sejak kecil pasti akan sukses di masa depan.
Namun, realitanya tidak sesederhana itu.
Kompetitif tanpa kesadaran diri hanya akan menghasilkan anak yang hidup di bawah bayang-bayang ambisi orang tua.
Yang lebih penting bukan sekadar menang.
Tetapi bagaimana anak tumbuh dengan semangat berusaha yang sehat tanpa kehilangan kebahagiaan dan kepribadiannya sendiri.
Penelitian yang disampaikan oleh psikolog anak Carol Dweck dalam jurnalnya tentang Mindset Development menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan growth mindset lebih tangguh menghadapi tantangan.
Namun, jika dorongan kompetitif datang dari paksaan, bukan dari minat dan keinginan anak sendiri, yang muncul bukan mentalitas berkembang.
Melainkan tekanan yang bisa melemahkan motivasi intrinsik mereka.
Lalu, bagaimana membangun jiwa kompetitif tanpa menjadikan anak sebagai ”robot prestasi?” Jawabannya ada pada keseimbangan antara dukungan dan kebebasan.
Anak perlu dikenalkan pada kompetisi sejak dini, tetapi dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan ketertarikan mereka.
Permainan edukatif, olahraga, atau lomba kecil di rumah bisa menjadi awal yang baik.
Dari sana, anak belajar bahwa usaha adalah hal yang utama, bukan hanya hasil akhir.
Orang tua memiliki peran utama dalam proses ini.
Alih-alih memaksakan cita-cita, mereka bisa menjadi fasilitator yang membantu anak menemukan minatnya.
Misalnya, jika seorang anak tampak antusias saat bernyanyi dan menari, orang tua bisa memberinya kesempatan mengikuti kompetisi seni seperti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).
Jika ia lebih tertarik d gan logika dan hitungan, Olimpiade Sains Nasional (OSN) bisa menjadi pilihan.
Kompetisi bukan sekadar ajang unjuk kemampuan, tetapi juga wadah eksplorasi dan pengembangan diri.
Ajang Duta Hijab Cilik Radar Malang 2025 menjadi contoh nyata bagaimana anak-anak yang telah menemukan panggilannya bisa bersaing secara sehat.
Dari puluhan peserta, hanya 12 anak yang terpilih karena memiliki kepercayaan diri, bakat, dan pemahaman nilai-nilai Islami.
Ini membuktikan bahwa kompetisi yang baik tidak hanya membentuk anak menjadi tangguh.
Namun juga tetap berakar pada karakter dan prinsip moral.
Fenomena buah jatuh tak jauh dari pohonnya juga menarik untuk dibahas.
Gita Gutawa misalnya.
Dia tumbuh menjadi penyanyi berbakat karena berada di lingkungan musik yang dibangun oleh ayahnya, Erwin Gutawa.
Namun yang membuatnya berkembang bukan hanya faktor keturunan, melainkan juga kesempatan dan dukungan yang diberikan sejak dini.
Anak yang mendapat dukungan sesuai minatnya akan lebih mudah berkembang tanpa merasa dipaksa.
Pada akhirnya, jiwa kompetitif yang sehat bukan tentang selalu menjadi nomor satu, tetapi tentang bagaimana anak tumbuh dengan semangat belajar dan berkembang.
Dengan pendekatan yang tepat, kompetisi tidak akan menjadi tekanan, tetapi justru menjadi ruang yang mengasah potensi mereka secara alami.
Orang tua perlu memastikan bahwa ambisi mereka tidak membebani anak, tetapi justru menjadi cahaya yang membimbing mereka menemukan jalan terbaik bagi diri mereka sendiri. (*)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana