MILA merupakan akronim dari Menuju Indonesia Lancar Angkutan. Itu menjadi nama sebuah Perusahaan Otobus (PO) Bus asal Probolinggo. Jargon itu sepertinya cocok untuk mewakili harapan besar warga Malang Raya setelah 20 November 2025 lalu.
Itu jadi tanggal yang cukup bersejarah. Sebab, hari itu telah hadir transportasi massa lintas Malang Raya dengan nama 'Trans Jatim'. Total ada 15 bus ukuran sedang dengan kelir warna biru yang hadir. Nama Gajayana tertempel di bodi sampingnya.
Setelah sekian lama, Malang Raya akhirnya memiliki transportasi umum yang saling terintegrasi. Fasilitasnya juga layak dan nyaman. Dan ada satu yang penting lagi, murah. Untuk penumpang umum dikenai tarif Rp 5 ribu. Pelajar hanya perlu bayar Rp 2,5 ribu
Kalau diriwayatkan, transportasi massal di wilayah Malang Raya sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dulu. Berawal dari sebuah perusahaan swasta bernama Malang Stoomtram Maatschappij (MS). Mereka membangun jaringan kereta api (KA) jenis trem berbahan bakar uap dari tahun 1879 sampai 1908.
Berbekal 24 lokomotif uap dan puluhan KA penumpang serta gerbong barang, transportasi itu bisa menghubungkan Kota Malang dengan sejumlah wilayah di Kabupaten Malang. Seperti Singosari, Pakis, Tumpang, Bululawang, Gondanglegi, Kepanjen, dan Dampit.
Setiap perjalanan, masing-masing ada KA penumpang dan gerbong barang yang dijalankan. Dengan pola seperti itu, pergerakan orang dan barang berjalan sangat lancar. Seperti diwartakan koran Het Nieuws van Den Dag edisi 7 Maret 1898. Di salah satu artikel, disebutkan bahwa MS bisa mengangkut 14 ribu penumpang dalam satu bulan.
Dengan revenue 1.775 gulden. Masa itu, panjang rel trem uap baru 20 kilometer. Antara Malang Jagalan sampai Gondanglegi. Pada masa keemasannya, MS bahkan berencana membangun jaringan trem ke Kota Batu. Namun rencana tidak pernah terwujud. Banyak yang bilang karena adanya erupsi sebuah gunung berapi di wilayah barat Malang Raya. Ada juga yang menyebut karena ketidakmampuan fiskal perusahaan dan negara pada saat itu.
Pada era tahun 1970 sampai 1980-an, kisah Malang punya KA antar kecamatan tersebut tinggal cerita. Jalur ditutup, rollingstock berupa gerbong, kereta, dan lokomotif disebar ke beberapa Depo KA dan lokomotif di beberapa daerah.
Transportasi umum di Malang Raya pun beralih ke jalan aspal. Fasilitas yang juga dibangun Belanda, hampir berbarengan dengan KA. Angkutan kota dan pedesaan pun merajalela di jalanan era 1980 sampai 2010-an. Mulai dari ujung Lawang di utara, Karangkates, dan Kasembon di barat, Gubugklakah di timur, dan Sendang Biru di selatan.
Setiap ujung tersebut terhubung dengan angkutan berbasis mobil Suzuki Carry dan Mitsubishi L300. Ada juga bus-bus mini dan Bison lintas Gadang-Turen-Dampit yang memberi corak tersendiri angkutan penumpang.
Lambat laun, kemacetan kian merebak di hampir setiap sudut jalan. Kepemilikan kendaraan pribadi makin meningkat. Sudah menjadi kebutuhan primer. Merujuk data BPS Kota Malang tahun 2022, ada 78.136 mobil penumpang dan 270.327 sepeda motor.
Angkutan-angkutan Mobil Penumpang Umum (MPU) tak bisa diandalkan kecepatan dan ketepatan waktunya. Sampai akhirnya ojek dan taksi online hadir pada 2015. Awalnya mendapat pertentangan dari kalangan transportasi konvensional.
Hadirnya transportasi online berimbas pada angkot dan angkudes yang makin berkurang. Mengakibatkan beberapa angkot yang jalan tidak teratur, sering ngetem, dan mematok tarif di luar ketentuan. Pemerintah tiga daerah di Malang Raya sebenarnya tidak diam dengan problem itu.
Pada 2014 lalu, ada rencana membangun KA Komuter Malang Raya. Dengan rute Lawang sampai Sumberpucung, berhenti di Singosari, Blimbing, Malang (Kotabaru), Malang Kotalama, Pakisaji, Kepanjen, Ngebruk, dan Sumberpucung. Konsepnya meniru angkutan rel lintas Mojokerto-Surabaya yang dulu dilintasi KA Arek Surokerto.
Dengan menggunakan rangkaian Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE) buatan PT INKA, satu orang rencananya dikenakan tarif tiket Rp 4 ribu.
Tapi wacana tetaplah wacana. Walau sudah siap dengan dua trainset KRDE, nyatanya KA itu tak jua beroperasi.
Saat uji coba, beberapa kali ditemui masalah berupa roda selip di lintas Lawang-Singosari. Akhirnya dua kereta tersebut digunakan untuk operasional KA lainnya. Sejumlah wacana lainnya silih berganti datang. Seperti rencana LRT Malang Raya, termasuk Kereta layang atau Sky Train lintas Kabupaten Malang-Kota Batu.
Sampai sekarang belum jelas kabarnya. Program penataan angkutan umum juga banyak yang buntu. Sekarang, kita bisa berharap bahwa bus Trans Jatim di Malang Raya menjelma sebagai batu loncatan transportasi massal yang layak. Kapasitas bus itu untuk 35 penumpang dalam sekali angkut.
Ke depan, ada rencana rute bus medium milik Pemprov Jatim tersebut akan melebarkan sayapnya ke arah selatan, barat, dan timur. Sembari pengembangan transportasi umum lebih lanjut, mari kita mulai lancar menggunakan angkutan umum di Malang Raya. (*)
Editor : Aditya Novrian