Untuk menandai penamaan tower tersebut, disematkan sebuah prasasti. Penyematan ini salah satu upaya mengenang dan mengenal orang-orang yang pernah memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
“Penyematan prasasti ini supaya supaya generasi berikutnya bisa mengenang bahwa dulu orang-orang ini pernah memimpin di UIN Maulana Malik Ibrahim,” terang Rektor UIN Maliki Malang Prof Dr Abdul Haris.
Prof Haris mengatakan, nantinya bakal ada 9 orang mantan pemimpin mulai dari sejak masih berstatus IAIN hingga UIN Maliki Malang yang namanya akan diabadikan di atas prasasti. Secara bertahap kesembilan prasasti tersebut akan dipasang di gedung tempat informasi, gedung humaniora, gedung mikro teaching, menara UIN, pusat bahasa, gedung A dan B serta poliklinik. Nama-nama yang tersemat itu akan mewakili nama-nama gedung itu.
Kesembilan gedung tersebut Gedung D, Prof Haris melanjutkan, diubah menjadi gedung Prof Dr Moh Koesnoe. Gedung Fakultas Humaniora menjadi gedung KH Oesman Mansoer, di gedung microteaching menjadi gedung Drs KH Maksum Oemar, gedung kuliah A menjadi gedung Drs KH Abdul Mudjib. Gedung Poliklinik UMMI menjadi Gedung Prof Dr Hj Zuhairini, gedung kuliah B menjadi gedung Drs H Moh Anwar, gedung pusat informasi menjadi gedung Drs H M Djumransjah Indar, Gedung C Pusat Bahasa menjadi gedung Prof Dr H Mudjia Rahardjo, dan bangunan menara setinggi 65 meter diberi nama Prof Dr H Imam Suprayogo.
Pewarta: Intan Refa Septiana
Foto: Laoh Mahfud
Editor: Hendarmono Al S Editor : Editor : Hendarmono Al S.