Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dua Kampus Bisa Raup Uang Gedung Rp 500 Miliar

Mardi Sampurno • Selasa, 23 Agustus 2022 | 19:47 WIB
(rio/ radar malang)
(rio/ radar malang)
Berasal dari Kuota 50 Persen Jalur Mandiri di UB dan UM 

MALANG KOTA - Dua kampus yang berstatus perguruan tinggi negeri-berbadan hukum (PTN-BH) bakal mendapat kucuran dana besar. Itu berasal dari penerimaan mahasiswa baru (PMB). Khususnya dari jalur mandiri. Sebab dengan status PTN-BH yang saat ini disandang, Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM) bisa memaksimalkan kuota dari jalur itu. Dari sebelumnya 30 persen, menjadi 50 persen. Dan seperti banyak diketahui, uang kuliah tunggal (UKT) maupun uang gedung untuk jalur tersebut lebih tinggi dibandingkan jalur lainnya.

Di UB contohnya. Tahun ini, dari total kuota 15 ribu mahasiswa baru, mereka bisa menyaring 7.500 mahasiswa dari jalur mandiri. Uang gedung atau di sana disebut dengan istilah iuran pengembangan institusi (IPI), nominalnya bermacam-macam. 

Dari pendalaman koran ini, IPI terendah berlaku untuk Program Studi (Prodi) D-IV Desain Grafis. Nominalnya antara Rp 12,5 juta sampai Rp 17,5 juta. Sementara IPI tertinggi berlaku untuk Prodi SI Kedokteran. Nilainya mulai Rp 125 juta sampai Rp 150 juta. Bila diambil nilai tengahnya, yakni Rp 56 juta per mahasiswa baru, UB bisa mendapat kucuran dana IPI senilai Rp 420 miliar (selengkapnya baca grafis). Jumlah itu didapat dari kuota 7.500 mahasiswa baru dari jalur mandiri, yang memang tersedia di tahun ini. 

Jumlah 7.500 mahasiswa baru dari jalur mandiri itu lebih sedikit dibandingkan kuota maksimal yang telah ditetapkan di angka 8.570 mahasiswa. Itu terjadi karena ada mahasiswa yang memutuskan mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Seperti diterima di kampus lain, diterima kedinasan, maupun alasan keluarga. Meski tidak memenuhi kuota yang ditentukan sejak awal, UB tidak boleh menambah lagi jumlah mahasiswa baru. Karena itu lah jumlah penerimaan dari jalur mandiri tetap berada di angka 7.500 mahasiswa. ”Iya, pendaftaran sudah ditutup, UB tahun ini menerima 15 ribu mahasiswa. Tidak ada cadangan dan tidak ada susulan,” kata Kabag Humas UB Kotok Guritno. 

Pada seleksi jalur mandiri beberapa waktu lalu, ada tiga jalur yang disediakan UB. Mulai dari prestasi, nilai rapor, dan hasil ujian tulis berbasis komputer (UTBK). Di tahun ini, pihak kampus tidak mengadakan tes untuk jalur mandiri. Pendaftar hanya mengirim bukti sertifikat untuk jalur prestasi, dan nilai rapor SMA/ SMK sederajat. ”Kemudian untuk nilai UTBK, kami sendiri yang akan meminta nilai kepada LTMPT (lembaga tes masuk perguruan tinggi),” kata Sekretaris Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik UB Heri Prawoto Widodo SSos MAB. 

Heri menegaskan bila perubahan status PTNBH tidak membuat pihaknya menaikkan nilai UKT. ”Itu komitmen kami sejak awal,” kata dia. Meski begitu, tetap saja nominalnya lebih tinggi dibandingkan mahasiswa dari jalur SNMPTN dan SBMPTN. Di UB, ada enam golongan untuk UKT. Golongan terendah yakni golongan satu, nominalnya Rp 500 ribu per semester. Itu bisa diterapkan pada mahasiswa dari jalur SNMPTN dan SBMPTN. 

Sementara golongan tertinggi yakni golongan enam, UKT-nya antara Rp 6 juta sampai Rp 7 juta per semester. Mahasiswa dari jalur mandiri bakal mendapat nominal UKT mulai dari golongan empat hingga enam. Golongan empat mulai dari Rp 3 juta per semester. Penentuan UKT di UB didasarkan pada pekerjaan orang tua atau kondisi keuangan keluarga mahasiswa baru. 

Kucuran dana dari IPI maupun UKT dari mahasiswa jalur mandiri digunakan UB untuk proyek-proyek yang saat ini tengah berlangsung. Seperti pembangunan Gedung Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) yang direncanakan akan berdiri dengan empat lantai. Kemudian, ada pembangunan gedung di sebelah Samantha Krida, yang ditarget selesai tahun ini. Serta, ada wacana pembangunan di UB Kediri dan UB Kampus Jalan Dieng, semuanya akan dibangun gedung dengan empat lantai. 

Tahun Ini, UM Bisa Catatkan SPSA Rp 80 M 

Di tempat lain, Direktur Akademik UM Prof Dr Suyono MPd menyebut bila masa penerimaan mahasiswa baru (PMB) di tempatnya belum benar-benar selesai. Sebab beberapa Prodi baru saat ini masih terus melakukan PMB. Untuk itu, jumlah pasti mahasiswa baru di setiap jalurnya masih belum bisa dia sampaikan. Meski begitu, jumlah estimasinya tetap diketahui. Sebab di tahun ini, UM membuka kuota untuk 8.460 mahasiswa baru. 

Bila kuota 50 persen dari jalur mandiri benar-benar dimaksimalkan mereka, di UM bakal ada 4.230 mahasiswa baru dari jalur tersebut. ”Jalur mandiri sendiri dipecah menjadi lima kategori. Yakni mandiri prestasi, mandiri portofolio, mandiri skor UTBK-SBMPTN, mandiri tes masuk berbasis komputer (TMBK) UM, dan mandiri kemitraan institusi,” kata Suyono. 

Di UM, uang gedung disebut dengan istilah sumbangan pengembangan sarana akademik (SPSA). Mahasiswa baru dari jalur mandiri harus membayarkan SPSA yang dimulai dari golongan satu dengan nominal paling rendah Rp 12,5 juta, hingga golongan tiga dengan nominal paling tinggi di atas 25 juta. Jika di ambil rata-rata tengah untuk pembayaran SPSA, tahun ini UM bisa mendapat kucuran dana Rp 80 miliar dari SPSA. Di tahun lalu, dengan kuota jalur mandiri hanya 30 persen, UM hanya bisa meraup dana dari SPSA sekitar Rp 48 miliar. 

Kucuran dana selanjutnya berasal dari UKT. Mahasiswa dari jalur mandiri kena UKT paling rendah Rp 4,8 juta per semester untuk golongan B, hingga nominal paling tinggi Rp 7,5 juta untuk golongan A. Jika diambil rata-rata tengah, kucuran dana dari UKT jalur mandiri bisa mencapai Rp 26 miliar. 

Jumlah kucuran dana yang besar itu punya peran penting untuk peningkatan kualitas pendidikan di UM. Kabag Humas UM Ifa Nursanti mengatakan, estimasi dana yang terkumpul itu akan dialokasikan untuk pemeliharaan fasilitas, sarana, dan prasarana .”Selain itu, juga untuk peningkatan mutu pendidikan,” kata dia. (adk/dre/by) Editor : Mardi Sampurno
#kampus negeri malang #Universitas Negeri Malang #Universitas Brawjaya #Seleksi jalur mandiri #uang gedung PTN