Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Poltekkes Kemenkes Malang Lepas 900 Wisudawan

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 18 Oktober 2023 | 17:02 WIB
Direktur Poltekkes Kemenkes Malang Dr Moh Wildan APer Pen MPd
Direktur Poltekkes Kemenkes Malang Dr Moh Wildan APer Pen MPd

MALANG KOTA - Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Malang menggelar wisuda hari ini (17/10).  Sebanyak 900 wisudawan akan dilepas di The Singhasari Resort, Kota Batu.

Ratusan wisudawan itu berasal dari prodi D3 dan Sarjana Terapan Keperawatan, serta D3 dan Sarjana Terapan Kebidanan yang berasal dari Kampus Satu di Jalan Ijen dan Kampus Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU).

Direktur Poltekkes Kemenkes Malang Dr Moh Wildan APer Pen MPd mengucapkan selamat atas keberhasilan para wisudawan sehingga dapat merayakan kelulusan. ”Lulus itu bukan suatu akhir, tetapi itu awal memasuki dunia kerja," tuturnya.

Ia juga berpesan kepada wisudawan untuk jangan berpuas diri dan tidak berlarut-larut dalam euforia kelulusan. ”Segera bersiap untuk memasuki dunia kerja, kalian merupakan nakes (tenaga kesehatan) yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat," tegasnya. 

Selama ini lulusan-lulusan Poltekkes Kemenkes Malang sudah dipersiapkan untuk melayani masyarakat di bidang kesehatan.  Pihaknya berupaya lulusan memiliki kualitas yang bagus ketika terjun di RS pemerintah maupun swasta. Secara implementasi, pihaknya sudah melakukan MoU dengan  rumah sakit vertikal.

Bentuk kerja sama yang terjalin yakni menempatkan alumni dan mahasiswa dalam bentuk magang maupun bekerja. Sehingga ketika sudah lulus, mereka siap diserap oleh pasar lokal maupun global. 

Lulusan Poltekkes Kemenkes Malang tidak hanya bekerja di Indonesia tetapi juga hingga luar negeri. Dr Wildan menyebut banyak alumni yang sudah bekerja di Jepang, Arab Saudi, Jerman, hingga Belanda. ”Data alumni kita selalu bertambah yang bekerja di luar negeri," imbuhnya.

Upaya internasionalisasi tersebut terus ditingkatkan. Salah satunya ialah dengan meningkatkan penguasaan bahasa internasional pada mahasiswa. Tak hanya bahasa Inggris, bahasa Jepang juga menjadi mata kuliah wajib bagi mahasiswa keperawatan. ”Kenapa lulusan kita banyak yang bekerja di Jepang karena ada penguatan khusus bahasa Jepang," imbuhnya.

Kisah Avivatul Zhulaikhah dan Triska Dama Yanti Jadi Wisudawan Berprestasi

Avivatul Zhulaikhah dan Triska Dama Yanti tak menyangka bisa menjadi wisudawan berprestasi Poltekkes Kemenkes Malang tahun ini. Tentu saja ada perjuangan keras yang dilakukan mereka demi meraih hasil terbaik. Mulai dari rajin berorganisasi hingga rajin mencatat saat perkuliahan berlangsung.

AVIVATUL Zhulaikhah masih tidak menyangka akan lulus dengan nilai terbaik di antara teman-temannya di Prodi D3 Keperawatan. Tepat selesai dalam kurun waktu tiga tahun, gadis kelahiran Kabupaten Trenggalek tersebut mampu meraih IPK 3,94. Sejak SMP, ia sudah tertarik dengan dunia kesehatan.

”Saya dulu sangat suka dengan stetoskop yang dimiliki tetangga saya yang seorang bidang,” kenangnya. Sejak saat itu, ia bercita-cita menjadi nakes. Kemudian ketika lulus SMP ia melanjutkan studi ke SMK dengan jurusan Keperawatan dan melanjutkan D3  Perawat di Poltekkes Kemenkes Malang melalui jalur prestasi.

Saat tugas akhir, ia mengambil penelitian yang berjudul ”Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum tentang Teknik  Menyusui yang Baik dan Benar di Ruang Sakura RSUD dr. Soedomo Trenggalek”. Dia banyak menemui kasus bayi yang tidak mendapat ASI dari ibunya dengan berbagai alasan.

AVIVATUL Zhulaikhah Prodi D3 Keperawatan meraih IPK 3,94
AVIVATUL Zhulaikhah Prodi D3 Keperawatan meraih IPK 3,94

Kata Gadis kelahiran tahun 2001 tersebut, kesalahan ibu dalam teknik menyusui juga  merupakan penyebab terjadinya stunting. ”ASI itu akan keluar dari kemauan ibu sendiri,” kata dia. Sehingga ibu harus terus mencoba menyusui apabila ASI tidak keluar atau ada yang bengkak di bagian puting. 

Selama belajar di Poltekkes Kemenkes Malang, anak tunggal tersebut juga aktif dalam berorganisasi. Ia sempat menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Perawat (HMP). Ia mengatakan, harus dapat membagi waktu antara belajar dan organisasi. ”Biasanya hari Senin sampai Jumat saya fokus kuliah, lalu Sabtu dan Minggu organisasi,” sebutnya.

Beda cerita dengan Triska Dama Yanti, mahasiswa D3 Keperawatan yang juga meraih IPK  3,94. Gadis asal Blitar tersebut belajar dengan tekun selama tiga tahun menjadi mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang. Saat pertama kali masuk kuliah pada 2020, ia dan teman-teman seangkatannya harus belajar melalui daring. 

Selama belajar daring, Triska harus mencari cara agar dapat lebih memahami penjelasan dosen. Untuk itu dia selalu mencatat saat dosen menerangkan. Catatan tersebut akan disusun rapi dalam suatu file dan akan dibaca ulang saat malam hari atau saat menjelang ujian.

Triska Dama Yanti, mahasiswa D3 Keperawatan yang meraih IPK  3,94
Triska Dama Yanti, mahasiswa D3 Keperawatan yang meraih IPK 3,94

Materi-materi yang dicatat terus ia pelajari hingga benar-benar melekat dalam kepalanya.  ”Untuk kata kunci juga saya catat di sticky note,” kata dia. Menurutnya demi meraih hasil terbaik yang paling penting dari proses belajar adalah mencatat. 

Judul tugas akhir yang ia ambil ialah ”Gambaran Perawatan Luka Diabetik dengan Hidrogel sebagai Modern Dressing dalam Perkembangan Luka di Pedis Care Malang”. Dari penelitian tersebut, masyarakat sering kali salah dalam mengatasi luka pada kulit. Sehingga modern dressing menggunakan hydrogel menjadi salah satu metode yang tepat mengatasi luka .

Lulus dalam waktu tiga tahun, Triska sempat tidak menyangka akan mendapatkan nilai yang tertinggi di antara temannya. Karena selama ini ia merasa persaingan antar teman sekelasnya cukup tinggi. ”Senang bisa membanggakan orang tua,” tutup dia. (dur/adn)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kemenkes #POLTEKKES #malang