UNIVERSITAS Negeri Malang (UM) kembali mengukuhkan guru besar (gubes) hari ini (21/11).
Bertempat di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB) A19 UM, ada empat gubes yang dikukuhkan.
Yakni Guru Besar Bidang Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Prof Dr Titi Mutiara Kiranawati MP, Guru Besar Bidang Manajemen Kebugaran Jasmani Prof Dr Sapto Adi MKes, Guru Besar Bidang Pendidikan dan Teknologi dan Kejuruan Ranting Ilmu Manajemen Pendidikan Vokasional Rekayasa Mesin Prof Dr Yoto ST MPd, serta Guru Besar Bidang Pengembangan Tenaga Kerja Konstruksi Prof Dr Isnandar MT.
Teliti Kelor sebagai Peningkat Produktivitas ASI
SAAT mengambil program doktoral, promotor menyarankan Prof Dr Titi Mutiara Kiranawati MP untuk mempelajari soal daun kelor.
Titi pun menyanggupi karena semasa kecil akrab bermain menggunakan daun kelor.
Saat dipelajari lebih dalam, ternyata kelor memiliki nilai gizi yang luar biasa.
Ada banyak kandungan nutrisi dalam daun kelor. Antara lain senyawa pencegah penyakit dan amino asam penting.
Saat dikeringkan, senyawa gizi daun kelor juga meningkat kecuali vitamin C.
Selain itu, daun kelor bisa memenuhi kebutuhan harian dari vitamin A untuk anakanak pada usia 13 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui.
”Sekarang daun kelor banyak dilihat sebagai tanaman ajaib,” ungkap Titi.
Padahal, sebelumnya daun kelor kerap dipandang sebelah mata karena kerap digunakan memandikan mayat.
Tujuannya untuk meluruhkan susuk dan jimat. Namun, kini banyak masyarakat yang memanfaatkan daun kelor.
Titi sendiri mengolah daun kelor menjadi bermacammacam bahan pangan seperti tepung, mi, kefir dengan penambahan kelor, roti, jelly, hingga cendol. (mel/adn)
Dongkrak Kebugaran dengan Pendekatan Holistik
DALAM menyongsong Indonesia Emas 2045, kualitas kebugaran masyarakat harus lebih ditingkatkan.
Sebab, berdasar data Sport Development Index 2023 ada penurunan kebugaran jasmani.
Penurunan itu ditunjukkan kondisi kebugaran penduduk usia 1630 tahun.
Hanya ada 5,04 persen penduduk usia tersebut yang memiliki kebugaran baik.
”Dengan minimnya penduduk yang memiliki kondisi kebugaran baik, maka perlu ada peningkatan untuk meningkatkan kualitas SDM,” tegas Prof Dr Sapto Adi MKes.
Peningkatan bisa dilakukan dengan cara pendekatan kebugaran baik secara nutrisi, aktivitas fisik, dan kesehatan mental.
Seluruh pendekatan tersebut saling berkaitan bagi organ tubuh. Tak hanya kebugaran fisik, kesehatan mental juga harus dijaga untuk mempertahankan motivasi dalam menjalani gaya hidup.
Jika seluruh aspek kebugaran dikelola, maka bisa mengurangi risiko penyakit kronis, memperbaiki keseimbangan emosi, serta meningkatkan fungsi kognitif.
Sebagai rekomendasi, Sapto menyampaikan kalau masyarakat juga perlu pendekatan holistik.
Yakni mengombinasikan program berbasis komunitas, institusi pendidikan, maupun olahraga profesional. (mel/adn)
Beri Solusi Pekerja Konstruksi Mudah Kantongi Sertifikat
INDONESIA menjadi pasar jasa konstruksi terbesar nomor empat di Asia.
Untuk mendukung keberlangsungan industri konstruksi, dibutuhkan tenaga kerja yang terampil dan tersertifikasi.
Hal itu juga sudah diatur dalam undangundang.
Berdasar data LPJK PUPR tahun 2017, ada 7.162.968 orang tenaga kerja konstruksi.
Namun yang tersertifikasi kurang dari 10 persen.
”Lalu pada 2024, jumlah tenaga kerja konstruksi ada 6,5 juta namun yang mengantongi sertifikat kurang dari 6,5 persen,” kata Prof Dr Isnandar MT.
Penurunan tenaga kerja yang tersertifikasi disebabkan oleh berbagai macam faktor.
Antara lain disharmonisasi jasa konstruksi seperti keberadaan UU Cipta Kerja.
Selain itu, banyak yang tidak melanjutkan pekerjaan di bidang konstruksi.
Untuk itu diperlukan sinergi dengan banyak stakeholder.
Mulai dari perguruan tinggi hingga lembaga sertifikasi mandiri.
Bahkan, di UM juga sudah memiliki lembaga sertifikasi sendiri yakni Pusat Pembinaan Pelatihan dan Sertifikasi Mandiri (P3SM).
Di sana, sudah terdapat 615 jabatan kerja dari 400 jabatan di bidang jasa konstruksi.
”Sertifikasi pekerja itu berlaku selama lima tahun,” tutupnya. (mel/adn)
Permudah Link and Match untuk Kurikulum SMK
KEBIJAKAN link and match membuka kesempatan bagi siswa SMK untuk lebih dekat dengan industri.
Dengan demikian, harus ada kerja sama yang baik antara kedua sektor.
”Lalu harus ada sinkronisasi kurikulum,” ucap Prof Dr Yoto ST MPd.
Kerja sama lain yang bisa dilakukan antara industri dan SMK adalah dalam kegiatan pembelajaran.
Antara lain menjadikan industri sebagai tempat magang guru.
Kemudian pembentukan kelas industri dan teaching factory.
Artinya, pekerjaan dari industri bisa diajarkan di sekolah dan dikerjakan siswa dengan pendampingan guru.
Itu didukung dengan bahanbahan yang didatangkan dari industri.
Hasilnya pun bisa diperjualbelikan, sementara sebagian keuntungan bisa diberikan kepada siswa.
”Tujuanya agar pembelajaran di SMK bisa update dengan kondisi industri terkini,” jelasnya.
Penerapan kebijakan link and match sudah diterapkan di SMK di berbagai daerah.
Di Kota Malang, yang sudah menerapkan ada SMK PGRI 3 Kota Malang. (mel/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana