Terletak di Desa Karangbesuki. Setelah kawasan itu bergabung secara administrasi dengan Kota Malang di tahun 1987, istilahnya berubah. Menjadi Kelurahan Karangbesuk. Perubahan itu ditetapkan sejak 2001. Istilah Dusun Badut pun berubah menjadi Kampung Badut. Perkampungan itu ada di RW 5, Kelurahan Karangbesuki. Ada 13 RT di dalam RW 5. Orang pertama yang babat alas di sana yakni Mbah Saniman, atau lebih akrab disebut Mbah Singobarong. Konon, beliau banyak menemukan pohon badut, atau sekarang disebut dengan pohon badutan.
”Pohonnya tinggi, kira-kira 10 meter. Diameter batangnya bisa satu meter. Bentuk daunnya itu seperti daun pohon nangka, tapi besarnya seperti daun pohon waru,” ujar Kamin, keturunan keenam dari Mbah Singobarong. Karena memiliki pohon badutan yang banyak itu lah kawasan di sana dinamakan dengan Dusun Badut. Cerita tersebut didukung Suwardono, sejarawan Kota Malang. Menurutnya, zaman dulu orang suka memberi nama kampung memang tanpa ada rapat atau kesepakatan. Apa yang terlihat, itu pula yang dijadikan nama. Oleh karena itu, tempat yang banyak pohon badutan itu dinamakan dengan Kampung Badut.
”Di sebelah tenggara Candi Badut itu ada pohonnya. Yang ukurannya belum terlalu besar. Itu tanaman saya. Saya sengaja tanam di sana, biar orang-orang tahu kalau asal nama badut itu dari tanaman,” kata dia. Dalam buku berjudul Malang Tempo Doeloe Jilid 2 karya Dukut Imam Widodo dan kawan-kawan disebutkan, Candi Badut pertama kali dilaporkan oleh Maureen Brecher pada 1921. Nama Candi Badut masih menjadi teka-teki. Sebagian ahli berpendapat, umumnya penyebutan candi sesuai dengan nama desa tempat berdirinya. Dan, candi itu ditemukan di Dusun Badut. Saat candi itu ditemukan, konon di sana juga terdapat banyak pohon badutan. Di dekat tumpukan batu candi juga ditemukan pohon itu. Versi lain juga menyebut bila Dusun Badut dulunya memiliki penduduk yang humoris. Itu disampaikan beberapa warga di sana. Versi itu mirip dengan buku berjudul Toponim Kota Malang karya Ismail Lutfi dan kawan-kawan. Buku tersebut menyatakan, dalam bahasa Jawa modern, nama badut berarti pelawak.
Sementara nama Jawa kuno untuk badut berartu banyol. Menurut Suwardono, Prof Purbacaraka menghubungkan nama badut dengan Prasasti Dinoyo (760 M). Dalam prasasti itu disebutkan ada Raja Gajayana. Nama kecilnya adalah Liçwa, yang berasal dari Bahasa Sansekerta. Artinya, anak komedi atau tukang tari. ”Orang Jawa kan menamakannya badut,” ucap dia. Versi ini juga terdapat dalam buku berjudul Malang Tempo Doeloe Jilid 2 karya Dukut Imam Widodo dan kawan-kawan. Terlepas dari versi yang berbeda itu, warga di Kampung Badut tetap guyub sampai sekarang. Mereka rutin menggelar selamatan desa sebagai bentuk syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. ”Biasanya kami bikin tumpeng, terus (mengirim doa) ke nenek moyang,” ujar Wahyudi, salah satu tokoh masyarakat setempat.
Dia melanjutkan, nenek moyang warga Kampung Badut ada di Makam Pakisaji dan Candi Badut. Makam Pakisaji saat ini digunakan sebagai tempat persemayaman terakhir Mbah Singobarong dan keturunannya. Warga Muslim biasanya menggelar syukuran di Balai RW dengan membaca surat Yasin dan istighotsah. Sedangkan, warga yang menggelar acara di Candi Badut biasanya menggunakan pakaian adat Jawa. Acara rutinan itu dinamakan bermacam-macam. ”Ada yang menyebut selamatan desa, selamatan dukuh, atau bersih dukuh,” ucap mantan Ketua RW 5 itu.
Biasanya, kegiatan itu dilaksanakan rutin setiap 1 Suro dan mengundang para pejabat di Kota Malang. Terakhir, acara itu diadakan pada 31 Juli 2022 atau 1 Muharam 1444 Hijriah. Saat memasuki wilayah RW 5, ada tugu bambu yang terletak berseberangan dengan Makam Pakisaji. Tugu itu berbentuk empat bambu. Satu bambu paling tinggi (sekitar empat meter), berada di belakang bagian tengah, Di atasnya berkibar bendera merah putih. Dua bambu lainnya lebih pendek (sekitar tiga setengah meter), mengapit bambu paling tinggi itu. Dan, satu bambu paling pendek (sekitar dua meter) berada paling depan. Keempat bambu tersebut didesain runcing pada bagian ujung. Terdapat lampu yang mengelilingi tugu tersebut dan akan menyala ketika malam hari. Arif Pribadi dan Usman Afandi, warga setempat, menyebut ada dua versi cerita terkait latar belakang pembangunan tugu tersebut. Pertama, menunjukkan senjata orang Jawa dalam melawan penjajah. Kedua, sebagai peringatan pertama kalinya listrik masuk ke Kampung Badut. (*/by) Editor : Mardi Sampurno